Tampilkan postingan dengan label catatan Bunda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan Bunda. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 September 2017

Masih Waras ?

Masih Waras ?


Menjadi seorang ibu memang memiliki cerita dan tantangan tersendiri. Dimana tantangan itu akan menjadikan dan meletakkanmu di level dimana seharusnya kau berada. Saat berada di tengah-tengan tantangan itu maka sepatutnya tetap menjaga fokus dan konsentrasi sebaik mungkin. Agar apa yang menjadi GOAL segera terapai dengan tanpa rasa paksaan dan penyesalan.

Beberapa ibu mungkin pernah bertanya masih waraskah saya ? Dengan segala kesibukan dan aktifitas yang bahkan tak pernah ada hentinya. Dengan semua kesibukan yang menjadikan lupa tentang bagaimana rasanya lari pagi sambil terus memandang ke depan. Jika memang ada, berarti saya memang salah satu orang tersebut. Salah satu ibu yang sering bertanya, masih waraskah saya?

Satu pribadi yang harus berada di luar rumah, tanpa banyak melihat tumbuh kembang dua putri kecil yang sedang belajar menahan terpaan badai kehidupan. Meninggalkan rumah yang harusnya penuh dengan suasana pendidikan anak. Meninggalkan lingkungan yang benar-benar haus akan sosok seorang manusia yang mengurusnya. Dan yang kutahu hanyalah pergi pagi pulang sore. Maam Bang Toyib.
masih waras ?

Menulis kadang menjadi keinginan yang sulit digapai, apalagi saat melihat salah satu putri kecil tak berdaya karena Sakit yanng dideritanya. Tapi kusadar, menjaga kewarasan bukanlah pilihan. Itu merupakan keharusan. Dan tidak boleh ada lagi pertanyaan "Masih waraskah saya?" Karena Kewarasan itu akan tetap ada dalam diri. Dan menulis adalah salah satu cara menjaganya.

Masih Waras ?
Catatan Cinta Bunda
Baca selengkapnya » 2 komentar

Selasa, 18 Oktober 2016

Gaya Bahasa

Gaya Bahasa


Tulisan kali ini memiliki Judul yang agak Gaya. Karena memang sudah lama tidak posting dan biar kekinian aja gituhhh  *peace. Tapi aku masih tetap aku yang dulu dengan gaya tulisan yang teu pararuguh

Bekerja di tempat sebagai kelompok minoritas, terkadang menjadi hal yang agak horor gituh, terkadang hal-hal kecil bisa menjadi masalah. Hal komunikasi merupakan hal yang utama dan paling penting untuk diperhatikan. Salah dalam hal komunikasi bisa menjadi awal bencana yang lumayan berharga. Sebagai seorang wanita, kemampuan yang selalu diuji, kecepatan yang harus dilatih, kecerdasan dan kemandirian yang selalu dipertanyakan. Semuanya harus dijadikan tantangan yang benar-benar bisa jadi pelajaran. Dan mempelajari gaya bahasa yang ada merupakan suatu keharusan yang mutlak. Salah sedikit saja, bisa diartikan hal lain. Terutama, aku yang memang sudah dari sananya notabene anak manja, nada bicara dan gaya bahasa yang tentu jauh berbeda dengan teman satu tim.

Satu pengalaman, saat jam pulang sudah berdetak, dan kerjaan hari itu memang sudah selesai. Tapi teman-teman masih asik dengan pekerjaan mereka, kutunggu satu jam, tak juga selesai mereka. Akhirnya kuputuskan untuk pulang lebih dulu. "Pak, aku duluan ya" Entah kenapa salah satu dari mereka berhenti dari pekerjaannya dan menengok tepat ke arahku. "ada apa Pak?" Sambil senyum-senyum dan kembali menghadap monitor si Bapak bilang "Ah, si Ibu kayak mo ke kamar aja segala pake duluan".

Hohohoho.....
Langsung ngacir deh tanpa pamit dan berkata apa-apa lagi. Ternyata Gaya Bahasa dan arti kata bagi laki-laki dan perempuan itu bisa benar-benar berbeda.
Kapok pamitan dengan cara gitu lagi.

gaya bahasa

Gaya Bahasa
Catatan Cinta Bunda
Baca selengkapnya » 1 komentar

Kamis, 30 Juni 2016

The Wedding

The Wedding


Setiap orang pasti ingin yang terbaik dalam kehidupannya. Bagaimana pun alur yang dihadapinya saat ini ia pasti ingin sesuatu yang lebih baik di akhir nanti.
Salah satu hal yang dinanti dan diimpikan oleh sebagian orang adalah The Wedding. Hari dimana dua anak manuasia memulai sesi baru dalam kehidupan mereka. Entah itu dimulai dengan sesuatu yang bahagia, karena telah mempersiapkannya jauh-jauh hari. Atau dimulai dengan hutang demi gengsi dan bisa juga dengan membobol sisa tabungan yang ada.

Namun, apapun itu setiap pasangan harus bersiap menghadapi jalan yang akan mereka tempuh. Entah itu akan berjalan manis berbalut terjal kerikil kecil ataupun pahit yang harus ditanggung bersama. Lelaki dengan iman dan tanggungjawab pasti tau kemana akan mengarahkan kapalnya.

The Wedding

The Wedding

Semoga dengan The Wedding ini, kau akan semakin menjadi pribadi yang lebih baik.
Baca selengkapnya » 0 komentar

Selasa, 01 September 2015

Mati Lagi

Mati Lagi

mati lagi

Aku yakin bisa. Ini adalah saat yang kunanti-nanti. Semua perbekalan yang dibutuhkan sudah siap. Senjata perjalananku lengkap. Ku harus terus berlari. "Ayo cepat, kamu pasti bisa. Lihat dengan jelas tujuanmu maka kau akan dengan mudah menggapainya" Salah seorang teman menyemangatiku. Pilihanku sudah tepat, aku harus segera menyelesaikan ini semua.

Perlahan keringat jatuh dari keningku. Suasana yang panas semenjak tadi kurasakan walau angin bertiup dari dua sumbernya. Tangan kurasa sudah mulai sakit dan pegal. Tak ketinggalan kedua kakiku yang sedari tadi membeku. Mata yang lelah kurasa sedikit perih. Namun aku harus tetap berjuang. Ini adalah penentuan. Tak ada lagi kesempatan setelah ini.

Dan . . .
Blep, semuanya gelap.
Mati lampu lagi. Pasti Game Over lagi. KOmputer mati, dua kipas angin kecilku pun mati. Pasti ibu sedang masak nasi, atau menyetrika baju lagi.
Padahal permainanku sudah final dan hampir menang.

Mati Lagi
catatan cinta bunda


Baca selengkapnya » 3 komentar

Rabu, 29 Juli 2015

Kenyataannya . . .

Kenyataannya . . .

Pernah denger ga, kalo misalnya orang yang hamil dari perbuatan yang tidak halal selalu saja hamil dan melahirkannya tidak mudah? Atau mungkin lahirannya seringkali 'brojol' gitu aja tanpa ngeden berlebih, bahkan tanpa ada acara pendarahan dan sebagainya. Bahkan mereka melahirkan di kamar mandi dan buang anaknya langsung di WC. Oh tidak .....
Sebagian, menggugurkan kandungannya. Ada yang selamat, ada juga yang tidak.
Tragis memang.
kenyataannya . . .

Baca beberapa akun teman, tenyata kenyataannya memang seperti itu adanya. Orang yang hamil di luar nikah tidak akan diberi rasa sakit dan payah, lelah, letih, lesu, dan tidak nyaman saat hamil dan melahirkan. Mereka akan merasa biasa saja, saat hamil bisa bepergian jauh tanpa rasa mual dan letih berlebih. Saat melahirkan, akan sangat mudah prosesnya. Bahkan bisa melahirkan tanpa bantuan. Sejenak terbesit rasa 'kagum ' dan 'wow hebat'. Karena proses melahirkan yang kualami selalu berbelit belit dan lamaaaaa . . . . .

Bukan, mereka bukan dimudahkan oleh Allah. Mereka bukan diberi keringanan atau sebagainya. Tapi ternyata mereka tidak diberi kesempatan oleh Nya untuk merasakan indahnya menjadi seorang ibu, dan besarnya pahala hamil dan melahirkan yang melelahkan itu. Melahirkan yang sungguh besar pahalanya tidak akan mereka raih. Doa ibu hamil yang sangat makbul tidak bisa mereka dapat.
kenyataannya . . .

Sungguh, pahala seorang ibu hanya bisa didapat oleh mereka yang pantas mendapatkannya.
Selamat beraktifitas di hari rabu.

Bunda Zia
kenyataannya . . .
Baca selengkapnya » 0 komentar

Senin, 20 Juli 2015

Lebaran atau LEBAR an

Lebaran atau LEBAR an

Gak terasa, udah bulan Syawwal aja nih. Bulan Ramadhan Kareem dah lewat dan kini tinggal kita terus berjuang untuk mempertahankan amal dan perbuatan baik yang sudah kita lakukan di bulan Ramadhan kemarin. Oia, J sekeluarga sekarang tinggal di kampung. Udah hampir tiga bulan sih sebenarnya, karena sawah yang dipanen saat J sekeluarga pindahan kini padinya sudah mulai menguning lagi.

Beberapa hal mengharuskan kami belajar di kampung. Jauh dari hiruk pikuk kota dan kebisingan serta kesibukannya. herang panon tiis cepil, itu yang biasa orang katakan tentang tinggal di kampung. Mudah mudahan saja seperti itu.

lebaran atau LEBAR an
ke saung cuma numpang foto doang
Alhamdulillah, lebaran kemarin kami sekeluarga bisa kumpul bareng bareng. Umi, Bapak dan Ita pulang kampung. Jenguk J sekeluarga , gitu lah judul besarnya. Lebaran atau LEBAR an. itu yang sering Ita bilang. Makanan yang numpuk, plus camilan yang Umi beli dari Bekasi memang menggoda. Dan otomatis semua itu bisa menjadikan lebaran ini ajang pe lebar an badan. Hehehe . . . .

Acara lebaran yang simpel. Dimulai dengan shalat Idul Fitri, yang alhamdulillah nya Eca baru teriak teriak saat rakaat kedua. Silaturahim bersama keluarga. Makan makan di rumah Ambu. Dilanjutkan dengan ziarah kubur dekat kampung kami. Simpel namun bermakna.

Dan tak lupa, keesokan harinya kami 'ngaliwet' ke saung di sawah. Karena kami adalah keluarga petani, otomatis harus bisa ngaliwet. Untuk bekal di sawah, biar ga ribet. Acara biasa yang menjadikan hati bahagia. Sederhana namun senang. Melewati jalanan curam dan berliku, naik nanjak penuh rintangan, diakhiri dengan pemandangan sawah terbentang luas dan hijau, indah ciptaan Tuhan.

Lebaran kok jadi nyambung ke sawah ya......   Mana hubungannya sama judulnya????

Lebaran atau LEBAR an
Bunda Zia
Baca selengkapnya » 0 komentar

Minggu, 30 November 2014

Happy Holiday

Happy Holiday


Bagi sebagian orang, liburan bisa berarti bepergian ke suatu tempat sambil membawa bekal dan menghabiskan banyak uang. Namun bagi sebagian lainnya, liburan bisa berarti berkumpul bersama keluarga dan menghabiskan waktu bersama walau tidak menghabiskan banyak uang. Hemat gituhhhh.

Dan hari ini, Bunda Zia merasakan sensasi lain dari Happy Holiday. Liburan bersama keluarga tercinta yang tak bisa tergantikan feelingnya ^_^   Karena Kesenangan dari liburan ini tak dicari dan dibuat dengan sengaja, akan tetapi hadir begitu saja sesuai keinginan hati.

Hari ini Bunda rencana pergi ngambil barang pesenan Tupperware di Rawa Panjang. Pergi berdua Eca dan ga usah kasih tau Kaka Zia yang nginep di rumah Umi, biar gak ribet. Soalnya kakak suka banyak jajan kalo dah ke Bekasi.
Jam delapan sudah cantik plus rapi, Bunda dan eca siap pergi. Dan kakak nongol tanpa salam dan sapaan, langsung nanya "kok udah rapi? Emang mau kemana? kakak mau ikut". gagal merayu Kakak untuk ditinggal dengan bibinya, akhirnya Bunda nyerah. Kakak mandi dan siap untuk pergi. Yuk berangkatttttttt.

Mengendarai mobil merah kesayangan dengan tulisan K-11 kami bertiga memulai langkah. Sesudah sampai di TKP. Tanpa basa basi Zia langsung nunjuk Mini Market itu dan minta Mainan, minuman, serta jajanan. OH tidakkkkkk. Dagangan belum diambil, kok udah harus keluar duit segitu. Hikssss. Mbak Anis yang kutunggu langsung masuk ke Mini Market saat melihatku ada di dalam. Dan transaksi kami pun berlangsung di sana.

Usai transaksi, kami beli buah untuk persiapan acara arisan keluarga siang ini. Dan kami pun pulang dengan mobil merah yang berbeda, namun tetap dengan tulisan K-11. Sesampainya di pasar, Bunda yang memang suka telat bayar listrik, akhirnya mampir ATM sebentar. Takut disamperin abang-abang PLN besok hari. Tapi kok pas keluar ATM, harum bau bakso mulai menggugah selera dan perut yang memang lapar belum makan. Tapi Bunda mau beli soto aja ahhhh.
"Bun, aku laper. Mau makan Bakso. Tapi makannya di sini ya sama Bunda" Anakku Zia memang pandai menggunakan situasi.
Happy holiday

Dengan agak berat hati sambil itung duit dalam dompet, kami menuju warung bakso dan mulai memesan dua porsi bakso. Ya, dua porsi. Karena Kakak Zia tidak akan cukup dengan setengah porsi. Kalo Eca sih, dua butir dipotong kecil-kecil juga udah cukup ^_^
Satu botol teh tidak akan dilupakan Zia. Itu sudah jadi kebiasaannya kalo makan bakso.

happy holiday
Eca ikut berpartisipasi makan bakso

Diinget-inget, udah lama kita ga pernah makan di luar. Ternyata makan bakso dengan dua anak kecil itu seru. Bahkan lebih seru dari pada makan di restoran mahal. Lirik dompet hehehehe
Kakak makan lahap, Eca juga gak mau kalah seru sama kakaknya. Anak-anak memang paling tau hal yang bisa bikin Bunda bahagia. Makan sambil bercanda dan ngoceh sana sini. Akhirnya selesai juga acara makan kami dengan meninggalkan meja yang super kotor. Maaf ya abang bakso. namanya juga anak-anak ^_^
happy holiday
Makan bakso pake tangan ???????
Sampai rumah, keduanya tampak kelelahan, dan akhirnya tidur dengan nyenyak. Trus Bunda nyusul juga deh ke tempat tidur
Makasih Kakak, makasih Eca.
Sumber kebahagiaan yang tak ada habisnya

Happy Holiday
Baca selengkapnya » 2 komentar

Minggu, 21 September 2014

Perjuangan Istri

Perjuangan Istri

Menikah, merupakan impian setiap wanita yang sudah mencapai usia dewasa. Yups, karena memang di usia dewasa adalah usia dimana seorang wanita mulai bermimpi menjadi seorang istri, dan seorang ibu. Setiap wanita yang belum menikah di usia dewasa selalu dibebani dengan pertanyaan kapan dan kapan dari keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Keresahan mulai menyusupi hati orang tua, dimana anak gadis yang mulai dewasa itu belum juga menemukan pendamping hidupnya. Dengan memikirkan atau tidak tentang bagaimana perasaan si anak gadis, beberapa ibu sering juga menekan mereka dengan beberapa lelaki yang diperkenalkan.

Setelah menikah, setiap wanita yang telah menjadi istri memiliki perjuangan mereka sendiri-sendiri.
Ada seorang istri yang terlihat kurus dan letih dengan hidupnya. Suami yang dahulu diidamkannya ternyata seorang lelaki yang "mata keranjang", yang sering gonta-ganti perempuan setiap minggunya. Pernah sekali dia menemukan suaminya tidur dengan wanita lain diranjangnya. Pernah pula dia melihat suaminya merayu seorang wanita muda, yang ternyata tetangganya sendiri. Namun demi dua anak yang masih kecil-kecil dia terus bertahan hidup dalam biduk rumah tangga. Itu perjuangan istri.

Terus bekerja tanpa henti, pergi pagi pulang malam dalam keadaan yang letih, "saya bagai sapi perah yang hidup dalam penjara rumah tangga" Itu ujarnya. Sang suami membentak setiap kali istrinya mengeluh karena kelelahan bekerja "saya memang mencari istri yang bisa bekerja. Bukan istri yang hanya enak-enakan tidur di rumah dan menghabiskan uang". Kembali menjadi perjuangan istri.

Wanita berjilbab lebar itu kaget, ketika rumah mungil yang sudah lima tahun ditempatinya itu digeledah polisi. Suaminya dituduh menjadi gembong pengedar narkoba. Kaget setengah mati, karena yang diketahuinya, suaminya adalah seorang buruh bangunan di kota yang besar ini. Ternyata, selama ini dia memberi makan ketiga anaknya dengan uang haram. Perjuangan istri yang pasti akan dicibir masyarakat sekitar.
perjuangan istri

Setiap istri memiliki perjuangan mereka sendiri-sendiri. Hanya beberapa contoh yang kudapat setelah nonton televisi hari ini. Semakin sabar dan kuat menghadapinya, semakin besar juga rahmat dan pahala yang didapatkannya. Semoga kita sebagai seorang istri berhasil bersabar dan bertahan dengan perjuangan masing-masing.

perjuangan istri
Bunda Zia
Baca selengkapnya » 4 komentar

Minggu, 14 September 2014

Bangun Pagi

Bangun Pagi


Anda suka bangun pagi? Jarang Bangun Pagi? Tidak pernah Bangun Pagi? Atau Bangun Pagi lalu tidur lagi? Apapun pilihan Anda, Anda tahu sendiri kebutuhan jasmani dan rohani Anda. Setiap orang memang memiliki porsi dan kebiasaan mereka masing-masing. Kebiasaan seseorang yang ditanamkan dalam dirinya akan menjadi karakter tersendiri yang menjadi ciri khasnya.

Kali ini Bunda Zia lagi ngomongin Bangun pagi. Baru punya anak dua sudah heran dan mikir, ternyata walau bapak dan emaknya sama, setiap individu bisa memiliki kepribadian yang berbeda. Yups, Kaka Zia dan Eca, dua anak yang memiliki wajah mirip emaknya, tapi kepribadian mereka jelas berbeda. Yang satu benar-benar otak kanan dan satunya kiriiiiii banget (penelitian awal, selanjutnya kita lihat nanti) ^_^

bangun pagi
ngantuk beraaaaaat

Oia, mengenai bangun tidur, di usia satu tahun ini, Eca bangun tepat di jam lima pagi. Membangunkan Emaknya yang terlelap dalam mimpi-mimpi indahnya. Sedangkan Kaka Zia, di usia satu tahunnya selalu terlena dan terlelap di dinginnya udara pagi sampai jam sepuluh, dan terkadang baru bisa bangun jika sudah diusap air oleh Bunda Zia.

bangun pagi
Diajak solat kok malah bobo ^_^

Kebiasaan yang tertanam semenjak kecil itu akan terus menempel jika tidak diubah dan didisiplinkan semenjak dini. Karena Kaka Zia yang memang belum sekolah, terkadang masih betah dengan tidur paginya hingga pukul delapan pagi. Mengubah kebiasaan memang bukanlah hal yang mudah, apalagi kebiasaan yang sudah tertanam sejak kecil. Namun dengan usaha dan keyakinan, semua itu akan bisa diubah sejalan dengan waktu.

Jadi, jam berapa anda bangun pagi?

Bangun Pagi
Baca selengkapnya » 3 komentar

Jumat, 30 Mei 2014

Me Versus

Me Versus


Batuk yang kurasa beberapa hari ini, ya, aku tahu itu bukan hal biasa. Bukan batuk yang jika minum obat warung akan sembuh dalam dua atau tiga hari. Batuk yang disertai lemas dan meriang yang tak pula sirna dengan obat masuk angin dan juga flu yang melanda setiap paginya.

Kejadian yang bisa kujalani dengan biasa dan acuk tak acuh sebenarnya. Namun, ketika putri kecilku harus kena dampaknya, berat badan yang sudah 9 kg di usianya yang ke delapan bulan kini menyusut jadi 7 kg. Bingung. Ditambah lagi pekerjaan rumah yang terbengkalai, suami dan putri pertamaku, oh tidaaaaaak. Bagaimana mereka? Stress.

Rasa sakit di badan dan stress yang melanda, menambah daftar pekerjaan yang harus diselesaikan secara bersamaan. Mencoba pengobatan alternatif yang pernah kujalani tiga tahun lalu, saat Zia berusia 6 bulan dan harus disapih karena keadaanku yang juga seperti ini. Belum berhasil. Dan aku diperkirakan berpenyakit yang akan berdampak buruk jika terus menyusui Echa. No, aku ga boleh sakit, aku ga boleh stress. Me Versus

Satu minggu masih belum ada hasil. Akhirnya aku ngungsi (lagi) ke rumah Umi. Maaf Ayah Zia, aku belum bisa lakukan yang terbaik. Mencoba melepaskan semua kewajibanku di rumah rumah. Berharap sembuh segera datang. Umi memang hebat, merawatku dan dua anakku plus bapak yang saat itu kebetulan sedang sakit juga. Ditambah lagi harus terus bekerja di pasar. Sendirian. Umi is the best. Kalo istilah Ayah Zia sih, ibu yang paling setia sama anaknya. Hehehehe . . .

Berobat ke dokter langganan Bapak, berharap keajaiban datang. Dan masih belum ada hasil. Entah, sudah berapa rupiah yang dikeluarkan, namun keadaan itu masih seperti ini. Mencoba peruntungan ke rumah sakit ternama, mudah-mudahan ikhtiar kami tidak sia-sia. Echa bisa seperti sedia kala. Dan aktifitas pun bisa berjalan sesuai dengan keinginan hati. Bisa berguna bagi sesama, dan tidak hanya ngungsi sana sini dengan harap dikasihani. Me Versus

Do'a dan ikhtiar, hanya itu. Harapan untuk sembuh agar Echa bisa terus minum ASI. Dan Bisa berguna walau dengan cara yang sederhana. Yahhhh, biar kaya emak-emak produktif gitu. Oia, mudah-mudahan pas kontrol nanti, dokter ngasih obatnya jangan banyak-banyak ya . . . .

Me Versus
Bunda Zia


Baca selengkapnya » 2 komentar

Jumat, 14 Februari 2014

Cemburu

Cemburu



cemburu
Kakak Zia
Sudah menginjak bulan keenam di usia Echa putri keduaku. Zia pun merasa memiliki teman karena kini Echa sudah mulai bisa diajak bercanda, terutama bermain Ci Luk Ba. Echa pasti akan langsung tertawa saat kakak Zia dengan tingkah lucunya berCi Luk Ba saat Echa menangis karena baru terbangun dari tidur siangnya.

Di satu saat, Zia akan senang bermain, dan di saat lain Zia pun memukul bagian tubuh Echa dengan tangannya sehingga Echa menangis. Dan aku tahu, itulah rasa cemburu.
Usia Zia dan Echa hanya terpaut 29 bulan membuat Zia merasa dirinya diduakan. Dan dia pun seolah merasa kini kasih sayang itu terbagi dan Bunda Zia lebih memperhatikan Echa karena dia masih terlampau kecil.

Dengan berat 8,5 kg di usia keenam bulan, Echa masih belum bisa merangkak. Berbeda dengan Zia yang sudah bisa berdiri dengan berpegangan di usia itu. Dan hal tersebut membuatku merasa agak khawatir dengan kondisi Echa. Walau sudah berkali-kali diberitahu bahwa setiap anak berbeda, namun aku tetap khawatir. Bisa jadi inilah salah satu sebab mengapa Zia terlampau cemburu melihat Echa yang selalu digendong Bundanya.

Rasa syukurku tak pernah lepas, memiliki dua putri cantik. Zia yang sudah memiliki kedewasaan yang lebih dari teman seusianya. Echa yang tidak rewel dan menggemaskan. Mereka obat rasa lelahku dan penawar rasa sedihku. Terus berusaha untuk berbuat adil dan baik bagi keduanya, kewajiban yang terus kunikmati. Agar rasa cemburu itu bisa hilang seiring dengan waktu yang terus berjalan.
cemburu
De Echa

Cemburu
Baca selengkapnya » 1 komentar

Minggu, 22 Desember 2013

Ibu, Cinta tanpa Akhir

Ibu, Cinta tanpa Akhir


Seorang anak akan mengerti pengorbanan dan cinta sang ibu jika dia sudah memiliki dan mengasuh anak. Kata-kata yang sering kudengar jauh sebelum menikah dan memiliki dua orang bidadari hatiku.Kata yang kini kubuktikan sendiri melalui kegiatan dan kesibukan yang kulakukan setiap hari. Hari-hari yang menyenangkan dan terkadang melelahkan dengan dua bidadari kecilku.

Ibu, Cinta tanpa Akhir. Cinta seorang ibu, adalah cinta yang bisa mewakili seluruh cinta di dunia ini. Jika semua orang meninggalkan dan mencomooh kita, tidak demikian dengan ibu. Tak beda baginya, keadaan, usia, jarak dan waktu yang manapu, ibu tetap akan mencurahkan seluruh cinta dan kasih sayang hanya untuk anak-anaknya. Masa kecil yang menyenangkan, selalu hangat dengan pelukan dan ciumannya. Tak peduli bagaimana keadaannya dan kondisinya. Ibu selalu memberikan yang terbaik.

Bolak balik rumah sakit tiap bulan dalam kurun waktu dua tahun tidak lantas membuatnya putus asa untuk terus menyayangi anak-anaknya tanpa mempedulikan penyakit yang bersarang di tubuhnya.
Tiga bulan waktu yang dihabiskannya di tempat tidur, dengan alasan urat kejepit, tak menghalanginya untuk bisa menghadiri wisuda sang anak beberapa bulan kemudian meski harus berjalan dengan bantuan tongkat. Disingkirkan rasa malu itu. Harus menghadiri anaknya wisuda, itulah tekad dan pemacunya untuk bisa sembuh dan berjalan seperti sediakala.
Terus berlatih berjalan dan berdiri lama, persiapan menyambut tamu di pernikahan anaknya. "Agar tak membuat malu anak" Itu alasannya. Dan ia terus kuat, hingga saat ini. Ibu, cinta tanpa akhir.

Seolah hidup sudah Mimi persiapkan untuk terus menjaga dan mendampingi anak-anaknya. Mimi selalu hadir dalam setiap kesempatan dimana a
ku membutuhkannya. Tak peduli sejauh apa jarak yang harus ditempuh, tak peduli sekeras apa usaha yang harus dilakukan. Terlalu banyak cinta dan kasih sayang yang telah Mimi berikan, serasa tak mampu ku untuk membalasnya.

Kasih seorang ibu, bukan hanya ada di saat kita selalu digendongnya, akan tetapi di saat kita menggendong tetaplah cinta itu sama, bahkan lebih. Zia dan Echa benar-benar membukakan mataku lebih lebar akan kasih sayang Mimi. Di saat semua orang meninggalkanku, hanya Mimi yang bersedia menemaniku. Setiap ku harus menginap di rumah sakit dalam waktu yang tidak sebentar, Mimi selalu setia merawat dan menjagaku. Hingga suamiku, orang yang tak lama mengenal Mimi bilang "Mimi adalah ibu yang paling setia pada anaknya". Kata-kata yang melekat terus di ingatanku, seolah memintaku untuk menjadi ibu yang setia seperti Mimi.
Ibu, Cinta tanpa Akhir
Love You Mimi
Tak ada cinta yang bisa melebihi cinta seorang ibu. Hanya Ilahi yang membalasnya. Cinta meluap bukan hanya pada anaknya, tapi terus mengalir hingga cucunya. Doaku, semoga kesehatanmu semakin membaik dan senyum itu selalu ada di wajahmu. Selamat Hari Ibu. Love you Mimi.

Ibu, Cinta tanpa akhir
Bunda Zia
Baca selengkapnya » 3 komentar

Sabtu, 21 Desember 2013

Trus Gimana?

Trus Gimana?


Bukan, bukan karena aku seorang wanita yang kerja di luar rumah dan bukan juga disebabkan repotnya mengasuh Echa. Akan tetapi Zia sering sekali berada di rumah Mimi. Ingin selalu bersama Mimi. Dan lebih memilih Mimi dari kedua orang tuanya.
trus gimana?

Akan tetapi kedekatan antara keduanya menjadi masalah baru bagiku pribadi. Dimana Zia selalu ingin main ke rumah Mimi, dengan banyak teman seusianya dan pengajian tempatnya belajar. Dan Mimi yang sering menelfon, memina Zia untuk segera main ke rumahnya.

Masalahnya, Ayah Zia selalu uring-uringan kalau anaknya di ajak ke rumah Mimi. Apalagi kalo Zia dijemput sama bibi Ita. Pasti langsung menclok di atas motor. Ayah Zia marah-marah, Ita malah nyengar-nyengir, Trus gimana nasibku?
Ada yang punya ide???

Bunda Zia
Trus gimana?
Baca selengkapnya » 1 komentar

Kamis, 19 Desember 2013

Semut Api

Semut Api


Semua bermula di sore itu, sore yang mendebarkan dan menakjubkan. Bunda sedang mandi, saat Zia datang sambil menangis dengan kencangnya dan berteriak "Bunda, sakit!!!". Kupercepat mandiku dan segera melihat keadaan si kecilku yang lincah itu. Saat kutemui di ruang depan, Zia sudah ditemani oleh Ayahnya dan temannya. "Mungkin Zia ngantuk Bun" Ujar Ayah Zia, tak puas dengan apa yang dikatakan Ayahnya, kutanya saja "Kenapa neng?" Dan dia langsung memberikan kaki kanannya yang mungil di hadapanku. masih terisak dengan air mata di pipi Zia berkata "Bunda, digigit semut api".
Ke kamar, dan ku ambil minyak yang biasa kupakaikan jika Zia gatal-gatal. Kupeluk Zia dan bilang "Ga apa-apa kok, tar juga sembuh, asal ga digaruk terus".

Peristiwa ini mengingatkanku akan apa yang dilakukan ibu mertuaku. Dimana ada semut, ibu langsung membuat garis dengan sebatang kapur, kapur ajaib. Dan tak lama kawanan semut mati. Hingga tak ada lagi yang melewati jalan dengan garis putih dari sebatang kapur.

Keesokan hari, Ayah Zia sudah menyuruh adiknya untuk membawakan satu kotak kecil kapur ajaib untuk membasmi semut api yang berefek sangat dahsyat saat Zia yang digigit. Dengan senang hati, Zia membantu Ayahnya membuat garis dari kapur di lantai dan tembok rumah kami dan aku iseng saja membuat beberapa garis di dapur dekat kamar mandi. Di sore hari memang tak terjadi satu hal apapun. Hanya saja kawanan semut itu merasa terganggu jalan mereka diwarnai (bahasa Zia).

Di pagi hari, seperti biasa Zia akan pergi bermain ke lapangan dengan Bunda Zia dan Dede Echa. Dengan hebohnya Dia bilang "Bunda semutnya pingsan semua". Heran dengan perkataannya, kulihat ke TKP. Memang benar, kawanan semut itu pingsan alias mati semua, ya semuanya. Seperti habis dibantai. Dibantai Zia dan Ayahnya ^_^.
Dan saat membersihkan rumah, kotoran yang paling banyak kusapu adalah mayat kawanan semut dan dua ekor kecoa.
semut api
Sayangnya, semut yang mati sudah disapu sebelum di foto
Thanks Ayah untuk kapur ajaibnya, kini Zia tak perlu takut digigit semut api lagi jika memakai sandal di teras, makasih ibu mertuaku yang secara visual telah memberitahuku obatpembasmi semut.
Baca selengkapnya » 0 komentar

Sabtu, 05 Oktober 2013

Pesona yang indah

Pesona yang indah


Seperti hari-hari  sebelumnya, pagi hari kusibukkan diriku dengan menyapu di halaman belakang rumah ibuku. Menyapu dengan ditemani lagu dangdut yang samar terdengar dari  rumah tetangga.
Setelah melahirkan, aktifitasku memang hanya sebatas rumah saja. Menyapu atau mencuci pakaian bayi. Ibu tidak pernah mengizinkanku melakukan hal-hal yang berat. Luka yang terkadang masih terasa dari perut memaksaku untuk tidak banyak tingkah meski kurasa aku benar-benar sudah sehat.

Dan pagi itu, kumelihatnya, di belakang rumah ibuku. Tetap menebar pesona walau terkadang tak terlihat jelas oleh mataku. Dia tetap sama, dan auranya selalu menuntunku untuk mendekatinya. Namun, saat kulihat bayiku yang belum genap dua bulan, kuurungkan niat tuk mendekatinya. Dengan cepat kutepis keinginan itu. Hal yang memang harus kulakukan saat ini. Pesona yang indah.

Jangankan melakukannya, hanya sekedar membicarakan keinginanku saja, s
udah pasti ibu akan marah. Tidak baik, tidak boleh, dan tidak pantas. Kupendam dalam-dalam keinginan itu. Dan ku tak tahu sampai kapan aku harus memendam rasa itu. Suamiku tak pernah bermasalah dengan hal itu. Dia bahkan tak akan mempermasalahkannya atau memikirkannya.

Lagi-lagi kumelihatnya pagi ini. Dan masih harus menahan diri untuk menyentuh atau memegangnya. Jika tidak, akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Pasti kemarahan ibu akan kembali terdengar di telingaku. Dan kutahu itu untuk kebaikanku. Pesona yang indah.

pesona yang indah

Pohon mangga yang baru saja berbuah, selalu terpampang nyata di ingatanku. Keinginanku memetik salah satu buah yang masih muda dan menyajikannya dengan sambal agak pedas membuat hatiku dag dig dug. Tapi aku yang baru saja melahirkan harus tahu diri agar keadaanku baik dan semakin membaik. Sampai jumpa mangga muda.

Bunda Zia
Pesona yang indah
Baca selengkapnya » 0 komentar

Rabu, 24 Juli 2013

Jalan Pagi

Jalan Pagi


jalan pagi
Hal yang sering dipandang sebelah mata dan terkadang diabaikan banyak orang. Dan banyak juga orang yang menganggapnya hal tidak penting yang hanya akan menghabiskan waktu saja.
Jalan pagi, hal yang mudah dilakukan namun terkadang sulit dijadikan kebiasaan. Padahal banyak sekali manfaat yang akan didapatkan dari hal tersebut. Kebiasaan baik yang bisa diandalkan bagi banyak orang awam, tidak bagi atlet dengan bidang tertentu pastinya.

Selain hawa sejuk di pagi hari, jalan pagi juga dapat menyegarkan mata dan melegakan hati. Banyak hal yang bisa dilihat dan akan banyak pelajaran yang ditemukan. Terutama jika memang dilakukan di daerah minim kendaraan yang penuh dengan warga ramah khas Indonesia.

Banyak lansia yang dianjurkan dokter untuk memulai aktifitas pagi dengan jalan pagi. Agar mereka bisa tetap menjaga stamina dan merasa awet muda. Dan hal ini juga sangat dianjurkan bagi ibu hamil. Apalagi jika sedang hamil tua alias sebentar lagi melahirkan, "Orang hamil jangan pernah tidur di pagi hari" itu pepatah para orang tua.

Itulah kebiasaan paling sulit yang sedang kujalani akhir-akhir ini. Mendekati masa-masa persalinan yang menurut bu Bidan seminggu setelah lebaran, harusnya ku sudah rajin jalan pagi dan olah raga kecil-kecilan ala ibu hamil. Tapi ternyata kenyataan selalu tidak semudah yang kita rencanakan dan pikirkan. Harus selalu mencari setitik motivasi untuk bangun pagi di saat semua orang tidur setelah sahur di bulan Ramadhan ini.

jalan pagi
Jalan Pagi bareng Zia

Walau dengan mata kedap-kedip dan kepala agak pusing, tetap semangat untuk terus maju berjalan kaki di pagi hari. Semangat ^_^

Jalan Pagi
Bunda Zia
Baca selengkapnya » 2 komentar

Sabtu, 30 Maret 2013

Kopdar itu Indah . . .

Kopdar Itu Indah . . .


Pengalaman yang sebenarnya sudah agak terlambat untuk dituliskan. Namun, karena blog adalah tempat yang tepat untuk menorehkan kenangan dan kejadian. So, kutuliskan saja semuanya walau agak telat.

Berkali-kali mencoba untuk berkumpul dengan beberapa komunitas blogger yang kebanyakan gagal. Apalagi mengingat ternyata cintaku sempat tak sampai di bulan lalu. Untuk mengobati semua itu, Ayah Zia mengajakku untuk pergi berkumpul bersama teman-teman BeBlog. Tentu saja kusambut gembira ajakan itu. Karena memang sudah terbayangkan olehku, bahwa kopdar itu indah dan menyenangkan. Apalagi akan banyak teman-teman yang hadir di sana.

Tanggal 16 Maret 2013, sudah kulingkari di kalenderku. Siap pergi di pagi hari walau dengan berat hati harus meninggalkan Zia. Dan setelah tahu tempatnya senyaman itu, kumenyesal tak bawa Zia.
Pergi di pagi hari dengan mengendarai motor Ayah Zia, menuju Rumah Makan tempat berkumpul kopdar. Berhenti di Rumah Makan Wulansari. Tapi kok sepi. Coba tanya sana sini dan ga ada yang tahu. Ga banget deh kalo di Bekasi harus nyasar dan salah tempat.

Lanjut menuju ke Rumah Makan kedua yang kulupa namanya. Dengan PeDe masuk Rumah Makan bergaya lesehan itu. Dan masih salah tempat juga. Ah,,,,, pokoknya harus ketemu tempatnya, ga boleh gagal lagi kopdar kali ini. Karena kusudah terlanjur bahagia dengan bayanganku akan Kopdar yang indah itu.

Lanjut ke Rumah Makan selanjutnya. Dan kami melihat Rumah Makan ini namanya sama dengan yang pertama. Alias Rumah Makan Wulansari. Ternyata memang inilah tempat kopdar yang kami cari-cari. Alhamdulillah, sampai di tempat tujuan.
Thanks Allah.

Memasuki ruangan yang emang dingin ber-AC, sengaja ga lepas jaket. Biarin ah ketauan orang desa juga, ga pernah kena AC hahahaha . . . .
Say Hello dengan beberapa teman, salaman sana sini, dan sibuk cipika cipiki ala ibu-ibu arisan. Sueneeeeeng banget. Lirik kanan kiri cari tempat duduk, dapet deh tempat di pojok belakang, berdua Ayah Zia. Mulai mendengarkan penjelasan dari Sang Pengundang Lintas.me. Dengan host kebanggan BeBlog, siapa lagi kalo bukan Mbak Mira ^_^

Simak menyimak, ternyata banyak lho manfaat Lintas.me. Bukan hanya sekedar submit artikel seperti yang biasa kulakukan. Tapi juga bisa naikkin pagerank.
Acara yang dilanjutkan dengan prakata sambutan dan curhat dari Mbak Indah dan Omjay yang inspiratif menyegarkan otak dan pikiran. Apalagi dilanjutkan dengan games dan lunch bareng. Makan gratis euuuuuy. Sering-sering aja atuh kalo begini mah hehehe . . .

Banyak hal positif yang kudapatkan dari Kopdar kali ini. Selain Silaturahim BeBlog yang terakhir September 2012 lalu, ilmu yang banyak dan bermanfaat, pastinya penyegaran dan motivasi baru untuk terus menulis. Thanks BeBlog, Thanks Lintas.me.
Dan makasih banyak teman Blogger yang baik hati. Tak sabar berkumpul kembali bersama kalian.

kenapa ya kalo difoto mesti merem ya?????
Kopdar itu indah
Bunda Zia
Baca selengkapnya » 1 komentar

Rabu, 06 Maret 2013

cinta yang tak sampai

cinta yang tak sampai


Lebay bener judulnya. Ah biarlah, tapi memang benar kok. Sudah kuperjuangkan dengan usaha maksimal, dan kupersiapkan dari jauh-jauh hari. Tapi ternyata cinta yang tak sampai. Sebenarnya ini kejadian sudah agak lama kok. Perjuangan menghadiri ulangtahun Kumpulan Emak-emak Blogger yang pertama. Yang mana anggotanya emak-emak semua ^_^ dan keren-keren semua. Aku juga termasuk yang keren lhoooo (ngarep).

Sudah mengantongi izin dari suami bukan berarti kita bisa dengan pasti menghadiri suatu acara, dan walaupun sang suami sudah berkorban agar kita bisa benar-benar hadir dengan selamat dan sehat wal afiat. Begitulah kondisiku saat itu. Acara yang kuidam-idamkan bisa hadir, dan tentu saja sudah kujadwalkan di kalender di rumahku ternyata belum diizinkan Yang Maha Segala.

Cinta yang Tak Sampai
kupersiapkan untuk ulangtahun KEB
Berangkat dari rumah sekitar pukul sepuluh, aku diantar suamiku dengan mengendarai motor kesayangannya kami pun pergi menuju Inul Vizta, Plaza Semanggi. Lumayan panas siang itu kurasa. Kunikmati saja perjalananku dengan keyakinan bahwa suamiku tahu dimana tempat yang kumaksud. Kuperhatikan jalan, dan sedikit bertanya "Ayah tau kan jalannya" Yang ditanya kok diam saja. Kuanggap itu sebagai pernyataan 'ya'.

Semakin terik mentari, kulirik jam di hp "sudah jam 12 kurang seperempat, wah acara sebentar lagi mulai nih" pikirku. Dan mulai kuperhatikan jalan, kok semua orang di Jakarta pake kaos orange ya????. Ah. mungkin banyak yang mau nonton bola kali . . . . Otakku mulai tidak beresss.

Semakin kuperhatikan jalan di Jakarta ini, rasanya kok familiar gitu ya....
Dan terus kuperhatikan . . .
Walahhh, tadi kan dah lewat sini, dan orang yang kaos orange itu kan yang tadi kulewati. Apa Ayah lagi ngelamun ya???

Bertanya sedikit lagi "Yah, bukannya kita udah lewat sini ya tadi ???"
"Iya, ini dah yang ketiga" jawabnya santai.
Kutahu, otakku waras. Dan Ayah dengan santainya bisa jawab begitu. Oh, memang lelaki yang cuek...

Dan setelah kuhitung-hitung, ternyata kami sudah keliling Gelora Bung Karno sebanyak lima kali. Bayangkan, lima kali saudara-saudara. Dengan sepeda motor di bawah terik mentari yang benar-benar membuatku kepanasan dan kehausan.
Sudah jam satu lebih, kukabari saja salah satu Makmin bahwa aku tak bisa hadir. Dengan sebab yang tak kusebutkan. hehehe   malu. Dan inilah cinta yang tak sampai.

Cinta yang Tak Sampai
Narsis dulu ^_^

Cinta yang Tak Sampai
baru sampai Monas
Dari pada keliling Jakarta cuma dapet capek doang, akhirnya aku dan Ayah Zia ngacir ke Monas. Numpang sholat, makan, ke kamar mandi, dan foto-foto ^_^.
Dari pada cuma dapet panas doank, kami pun membeli dua kaos Monas. Yang satu buat Zia Kecil dan satunya buat Engkong Zia yang doyan sama sepeda onthel.
Dapet oleh-oleh deh...
Cinta yang Tak Sampai
Jakarta dengan pemandangan basahnya

Tak lama mejeng di Monas, hujan mulai mengguyur ibu kota. Dan kami pun berteduh di halte sambil minum kopi dan liat pemandangan. Lalu pulang ke rumah walau dengan rasa penasaran yang mengganjal di hati. Pengen ikut kopdar dan ga pernah kesampaian.

Cinta yang Tak Sampai
Zia dengan Baju Ondel-Ondel

Cinta yang tak sampai
Bunda Zia
Baca selengkapnya » 4 komentar

Sabtu, 09 Februari 2013

Ini Juga Masih Harus Syukur . . .

Ini Juga Masih Harus Syukur . . .


Terbangun dari tidur malam itu, karena mendengar bisingnya motor yang wara wiri di depan rumahku. Sudah pagi kah?? Mana Ayah Zia lagi keluar rumah. Dan tiba-tiba blep, MATI LAMPU. Zia mulai merengek merasa kepanasan, mana lilin habis lagi.

Tak lama, Ayah Zia masuk, melihatku terbangun, dia bilang "Air naik lagi Bun".

Masih teringat dan terekam jelas, luapan air sungai yang kulewati setinggi pinggangku. Berjalan sendiri untuk mengantar nasi ke rumah Embah Zia yang agak jauh dari gerbang komplek. Bersyukur saat itu air sudah tenang, dan memang harus berjalan di tengah sambil terus berhati-hati menenteng rantang ^_^
Memandang air yang mengalir deras memasuki wilayah komplek merupakan hal menegangkan, mengira-ngira akan setinggi apa air menutupi rumah, hal yang melelahkan.

Baru saja, 2 minggu lalu. Dan sekarang sudah harus mengeruk dan menarik keluar pasukan lumpur yang berhasil menguasai rumah Mbah Zia. Ya, rumah Mbah. Rumahku yang terletak diantara dua komplek langganan banjir memang tidak ikut melihat atau merasakan lumpur dan air kotor. Tapi ikut juga kehilangan akses PLN yang selalu menemani saban hari. Hanya mati lampu, ini juga masih harus bersyukur. Karena rumah masih bisa ditempati.

Rupanya banjir malam ini lebih tinggi dari banjir sebelumnya. Dan kedatangannya yang malam hari membuat Mbah Zia kedinginan saat menaikkan barang dagangan di warung depan rumahnya. Ya, rupanya banjir yang datang menjelang tengah malam mendatangkan masalah tersendiri.

Ikut membersihkan rumah seusai banjir adalah hal baru bagiku. Walau hanya melihat dari loteng karena sibuk dengan Zia yang ingin turun karena melihat Ayahnya berkecimpung dengan lumpur ^_^

" kenapa sih kalo banjir pasti ninggalin lumpur? Kok ga air bening aja yang ditinggalin? " celetuk salah seorang sepupuku yang sedang ikut bersih-bersih. Memang, membersihkan lumpur amat menyebalkan, apalagi tak Ada air bersih saat itu. Listrik masih padam, karena di perumahan PGP memang masih banjir.

" kalau aku sih masih mending dikasih air sama Allah, dariada dikasih api, habis rumahku nanti. Cuma segini aka kok. Ini juga masih harus syukur " timbal Mbah Zia yang mendengar perkataan sepupuku itu. Memang benar, segala musibah dan cobaan yang diberikan Allah pada setiap hambanya memiliki makna dan maksud tertentu. Ujian atau azab, mencari letak kesalahan manusia yang mungkin telah salah memperlakukan alam tempat tinggalnya.

Ini Juga Masih Harus Syukur
Bunda Zia
Baca selengkapnya » 1 komentar

Kamis, 31 Januari 2013

Tangan Sang Juru Masak

Tangan Sang Juru Masak



'Aa, ne ada opor ayam enak. Lumayan 3000 perak dapet tiga potong kecil-kecil. Makan sana sama ade' Ujar sang mama pada anak keduanya di pagi hari. 'Mama beli dimana? Di warung pojokan yang ada tulisan rica-ricanya ya? Aa ga mau ah, Mama aja yang makan'. Sang Mama sambil bingung bertanya ' Emangnya ngapa ga mau, kan enak nih opor ayam?'. Sang anak menjawab 'Itu Ma, yang masak ayam kan anaknya korengan, dua-duanya lagi. Dan gitu di rumahnya acak-acakan banget, plus banyak kucing pada tidur di kasurnya hihiiiii' Sang Mama kaget dan berkata dengan nada agak tinggi ' Jangan sok tau, emangnya kamu tau dari mana kayak gituan?' 'Kan anaknya temen Aa, trus waktu Aa maen ke rumahnya, Aa jijik Ma liat rumahnya jorok banget' Sahutnya sambil melengos pergi.


Masih anak yang sama.
'Ma, mau kemana?' Tanyanya pada Sang Mama 'Mau beli kikil di warteg depan. Kemaren Mama nyobain enak deh' Jawabnya. 'Ih Mama, ngapain sih beli di warteg itu? Kan wartegnya ada anak kecilnya Ma' Sang Mama dibuat heran dengan jawaban anaknya. 'Mangnya ngapa kalo ada anak kecilnya?' Pertanyaan Sang Mama tidak terjawab saat itu, karena anak lelakinya sudah lari mengejar teman-temannya yang menggiring bola.
'Ah, palingan si Aa ga suka ma anaknya' pikir Sang Mama, dan terus pergi ke warteg dengan uang RP. 5000 di tangan. Sampai di depan warteg, Sang Mama tidak melihat Mbak yang biasa duduk di balik meja. Memanggil-manggil si empunya warteg, Sang Mama melihat Mbak tersebut di kamar mandi dengan pintu yang terbuka dan sedang "nyebokin" anaknya. Oh NO. Sang Mama jadi ga enak ati. Dari niat semula yang 5000 akhirnya Mama beli kikil cuma 2000.

Cerita seorang ibu muda tentang anaknya di sore hari. Sambil menemani Zia bermain dengan teman-teman sebayanya. Sang anak memang terlihat cuek, namun apabila berurusan dengan makanan, dia akan melihat kebersihan tangan sang juru masak.

Tidak bisa ditolak, beberapa dari kita pun terkadang berfikir dua kali tentang kebersihan makanan kita. Entah itu kebersihan tangan sang juru masak atau kebersihan tempat kita makan. Atau mungkin keadaan lingkungan sekitar ketika kita makan. Hal tersebut menyebabkan beberapa orang lebih menyukai masakan rumah dari pada masakan warung yang tak jelas proses dan kebersihannya.

Dan kepandaian kita memilih tempat untuk menikmati makanan tinggal makan adalah hal yang memang harus kita kuasai. Jangan sampai, hanya karena ingin makan praktis tanpa ribet, perut sekeluarga jadi taruhannya.

Tangan Sang Juru Masak
Bunda Zia
Baca selengkapnya » 3 komentar

Catatan Cinta Bunda Zia