Tampilkan postingan dengan label daily activity. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label daily activity. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Januari 2017

Outdoor atau Indoor

Outdoor atau Indoor



Menjadi seorang ibu rumah tangga memang tidak boleh sakit. Tapi yang paling penting adalah TIDAK BOLEH MALAS. Bagaimana pun mood yang kau miliki, bagaimana keinginanmu yang belum terpenuhi, semua pekerjaan rumah selalu setia untuk dikerjakan. Dari mulai depan rumah yang selalu terlihat jelas oleh tetangga hingga belakang rumah yang hanya bisa dilihat oleh dedaunan yang jatuh dan rumput liar.


Memilih melakukan semua pekerjaan rumah sendiri tanpa bantuan orang lain adalah hal yang bisa mendewasakan dan merajinkan diri saya pribadi. Namun memanage waktu, tenaga dan pikiran untuk melakukan semua hal itu adalah hal yang pastinya agak sulit dilakukan oleh orang malas seperti saya. Peace.......

Pekerjaan rumah Indoor ataupun outdoor sepenuhnya tanggungjawab saya. Memilih waktu yang tepat untuk mengerjakannya memerlukan keberanian dan tekad yang tinggi. Pekerjaan Indoor lebih nyaman saya lakukan di pagi hari, saat matahari masih malu memeprlihatkan dirinya dan saat suasana sepi memenuhi alam yang setengah ngantuk. Sedangkan semua pekerjaan Outdoor lebih suka saya lakukan saat matahari mulai memberanikan diri menyapa baju-baju yang sudah tergantung di jemuran. Memberikan sedikit keringat untuk saya yang baru selesai dengan cangkir kopi pertama saat menjelang siang hari. Menyapa siapapun yang lalu lalang sambil sesekali memanggil Eca yang sudah asik dengan teman berbulunya.

Tak pernah ada target yang saya terapkan untuk jam selesai semua pekerjaan. Tak pernah juga memaksakan semua pekerjaan selesai dengan cepat. Karena hidup hanya sekali, jangan lupa untuk ngopi lagi.
Ah... itu hanya alasan saya.

Outdoor atau Indoor
Catatan Cinta Bunda
Baca selengkapnya » 0 komentar

Sabtu, 09 November 2013

Maaf, Premium habis

Maaf, Premium habis


maaf, premium habis
Ada hal yang biasa saja, namun karena dilakukan oleh orang biasa, maka hal tersebut menjadi hal yang tak biasa. Siang ini kuajak Echa, putri keduaku untuk pergi ke Bekasi mengambil barang pesanan. Sengaja naik angkot, karena memang tak ada yang mengantar kami pergi ke Bekasi. Alhamdulillah, seperti biasa Echa tidak rewel dan tidur sepanjang jalan dan hanya minta ASI sekali ketika kami sudah sampai tempat tujuan.

Selesai mengambil pesanan, tak sabar ku ingin segera pulang. Kasihan melihat Echa yang nampaknya sudah lelah kuajak jalan dari siang. Setelah dua kali naik angkot, kini angkot terakhir siap mengantarku pulang ke rumah. Namun, rasa kesal sedikit menyinggahi hati, saat supir angkot hanya sebentar menyalakan mesin mobil untuk menarik penumpang naik. Dan setelah ada penumpang naik, dia mematikan kembali mesin mobilnya.

Dan temannya menegur sang supir dengan agak berteriak "bang, itu bensin tinggal dikit.Cepet jalan. Tar kalo nemu POM langsung isi aja" Otomatis, supir pun menjalankan angkot sambil lirik kanan kiri jika ada tambahan penumpang. Sedikit lega akhirnya.
Ke POM bensin??? Otakku mengingat kembali memori beberapa jam yang lalu, seingatku di POM terdekat terdapat tulisan Maaf, Premium Habis. Ah, mungkin sang supir akan mengisi bensin di POM berikutnya, bukan POM dekat rumahku.

Dua orang ibu-ibu naik tak lama setelah beberapa meter angkot ini melaju. ibu-ibu yang nampaknya periang dan senang bicara. Hanya penilaian sesaatku saja kok. Karena ibu-ibu itu tak berhenti ngobrol semenjak mereka berjalan tadi.

Dan tak seperti dugaanku, ternyata supir angkot membelokkan mobilnya ke POM dekat rumahku yang jelas bertuliskan Maaf, Premium Habis. Saat mendekati pos 3 tempat mobil mengisi Premium, pegawai POM meneriaki supir angkot "Bang, Premium habis". Lalu sang supir membelokkan mobilnya ke pos 4, dimana motor biasa mengisi premium. Dan pegawai POM yang lain berkata "bang Premium habis, isi pertamax aja".

Supir angkot yang takut mobilnya mogok karena habis bensin mulai agak bingung dengan ketiadaan Premium di POM itu dan berucap "Daripada mogok, mending beli pertamax aja deh" sambil bertanya "Mbak, pertamax sebelah mana?" "di pos 1 bang" jawab pegawai POM di pos 4.

Entah bingung atau apa, tapi kok sang supir mengarahkan mobilnya ke pos 2. Dan dengan gugup dia bertanya, "pertamax ada?" "di pos 1 bang" kembali pegawai cantik di pos 4 mengingatkan. Dua ibu di sampingku tak berhenti tertawa dengan tingkah supir yang gugup dan bingung.
"Keder gua, dapet berapa liter ya pertamax kalo 20,000???". Tak ada jawaban, hanya terdengar suara deru mobil yang mengarah ke pos 1 POM bensin ini.

Sesampai di pos 1, pegawai disana berkata "Maaf, Premium habis. Di sini tempatnya Pertamax" sambil menunjuk pada tulisan Pertamax yang berdasar warna biru. Terdengar dari kejauhan Mbak Pegawai yang cantik berkata "Mas, dia mo ngisi pertamax".

Kasihan sebenarnya, supir angkot yang baru mendapat beberapa penumpang harus mengisi bahan bakar yang dianggapnya mewah. Angkot isi premium 20,000 sudah biasa. Tapi ini pertamax, entah akan bertahan berapa meter lagi mobil tersebut dengan bahan bakar yang tidak sampai dua liter itu. Tak tahu, siapa yang membawa premium miliknya.
Ku turun tepat di depan gerbang komplek. Sudah agak sore, tidak terlalu panas seperti saat kuberangkat tadi. Namun, ku tetap ingin cepat pulang. Semoga sang supir angkot dapat sampai di POM bensin berikutnya dengan premium dan tanpa mogok.

Bunda Zia
Maaf, premium habis
Baca selengkapnya » 1 komentar

Selasa, 29 Januari 2013

Ga Ngeblog Bikin Sakit

Ga Ngeblog Bikin Sakit



ga ngeblog bikin sakit
my office
Judulnya agak sadis ya...
Sengaja J kasih judul Ga Ngeblog Bikin Sakit, supaya J inget. Ketika J ga ngeblog, berarti satu kegiatan dalam hidup J bertambah, maksudnya bertambah males. Kok bisa, karena saat itu otak ini berhenti bekerja dan tangan pun berhenti bergerak. Pokoknya bahaya banget deh kalo ga ngeblog itu.

Berawal dari rasa lelah berlebih yang sering J rasakan tiap harinya, berlanjut pada kantuk yang selalu datang di siang hari. Apalagi kalo dah liat Zia tidur, wah ga tahan deh Bunda Zia pun langsung ikut nempel bantal hehehe . . . .

Cape, ngantuk, dan mual pun datang bertubi-tubi. Laper salah, kenyang salah, ngantuk salah, tidur juga salah. Pokoknya serba serbi salah deh. Dan tilik ditilik serta periksa sana sini, ternyata J hamil ^_^. Alhamdulillah. Memasuki Minggu-minggu pertama, BB masih aktif. Jadi walau dah capek duluan pas liat laptop, J masih bisa liat aktifitas teman-teman di Facebook. Dan beberapa minggu lalu, paket BB habis, males ngisi ulang. Ga tau dah kabar berita di dunia. Bahkan J baru tau kalo Raffi Ahmad yang ganteng itu ditangkap BNN dua hari yang lalu. Ketinggalan banget ya. Jadi ngerasa orang tergaptek di dunia (lebay . . .).

Sekarang J benar-benar insaf deh, Ga Ngeblog Bikin Sakit. Itu nyata. Sudah hampir satu bulan J ga nyentuh laptop, dan rizki pun tak kunjung datang, karena tokonya berdebu ga pernah dibuka. Pokoknya, ibaratnya bau apek pool abis deh tuh toko. Dah ada jamurnya di sana sini. Lha wong pintu rizkinya lewat internet kok males ngenet. Maka, rizki pun males dateng. Kapok.

Kalo di scan di rumah sakit, kayaknya penyakit J lebih banyak dua kali lipat dari sebulan yang lalu. Ini pertanda kiamat. Harus segera bergerak dan terus tumbuh agar penyakitnya mental semua. Dan jangan sampai kejadian ini terjadi lagi. Semangat.....
Kirain bakal lupa caranya ngeblog, ternyata masih lancar kok ^_^

Ga ngeblog Bikin Sakit.
Baca selengkapnya » 1 komentar

Jumat, 04 Januari 2013

Setelah Sekian Lama (2)

Setelah Sekian Lama (2)


Sebelumnya di Setelah Sekian Lama, Akhirnya . . .


foto dulu di masjid kampus
Sebelum adzan shubuh berkumandang, Ita sudah bersiap bangun dan mandi. Seusai shalat, Ita diantar Bapak dan Ayah Zia. Karena pastinya ga sempet sarapan dan takut Ita kelaparan, kuberi dia segelas shake mix. Mudah-mudahan bisa bertahan hingga selesai acara nanti.

Zia masih belum juga bangun. Aku dan Mimi sudah siap, hanya tinggal ganti baju. Kusarankan Mimi ke salon, tapi katanya "kan ada teteh, ngapain ke salon??" Wah, emang ku bisa apa? Coba corat-coret wajah, lumayan lah. Daripada ga ada polesan apa-apa.

Setelah sekian lama, pergi juga kami ke acara wisuda Ita. Jam delapan kami siap pergi ke Kampus, dan sebelumnya menjemput para ua di Al-Munawar terlebih dahulu.Sesampainya disana, kami diturunkan di depan gerbang, sedangkan ayah Zia memarkirkan mobil entah dimana. Subhanallah, namanya rezeki ada dimana-mana. Ini kampus apa pasar malem?
Pedagang bunga yang kutemui pertama kali, kuambil seikat bunga yang ku tak tahu namanya. Eh, Zia ikut-ikutan ambil sekuntum bunga mawar merah yang indah dan langsung dirusaknya begitu saja. Jiaaaah, harus dibayar deh.

Acara masih terus berlanjut, Zia sudah ambil arum Manis dan memakannya. Jajan lagi. Kami beristirahat di masjid kampus sambil menunggu acara selesai. Ditinggal ke kamar mandi, Zia sudah mengambil kipas Angry Bird dan berhasil menyobek plastiknya serta sudah menggigit sebuah es krim. Gimana kalo ditinggal mandi??

Setelah sekian Lama . . .
Alhamdulillah, sekitar jam 12.00 acara wisuda selesai. Ada yang membuatku sedikit ndeso. Kok ada arak-arakan segala ya. Para wisudawan banyak yang diarak ma ketua BEM. Kalo aku dulu ga gitu deh hehehehe . . .

arak-arakan wisudawan

ada yang naek sisingaan segala
Setelah bertemu Ita, tak lupa kami segera cari tukang foto. Mau narsis dulu. Mumpung lagi cantik ^_^ Bergatian kami berpose. Ga apa-apa deh bibir memble yang penting ga bayar huahahaha . . .

Melepas lelah di masjid kampus lagi. Dah lumayan sepi. Shalat dzuhur bergantian dan ambil timbel di mobil. Makan deh. Laperrrr. . .
Siang ini berencana melanjutkan perjalanan ke Kampung Halaman nan jauh di atas gunung. Dua hari di kampung, cukup menyenangkan dengan berbagai acara keluarga.

narsis berdua
mau shalat, bongkar riasan dulu
Setelah itu, di senin pagi kami pulang kembali ke Bekasi. Kembali dengan rutinitas masing-masing. Ita ikut pulang, namun tidak lama. Dia harus kembali ke Tasik untuk urusan ijazah dan beberapa urusan kuliah serta pesantrennya. Alhamdulillah, semua anak bapak sudah sarjana.
Walau Bapak ga tau rasanya bangku sekolah, tapi anak Bapak harus memiliki bangku sekolah. Perkataan Bapak dulu sekali. Thanks Pak.

Setelah Sekian Lama (2)
Bunda Zia
Baca selengkapnya » 5 komentar

Kamis, 03 Januari 2013

Setelah sekian lama, Akhirnya . . .

Setelah sekian lama, Akhirnya . . .


setelah sekian lama, akhirnya
Menyelesaikan masa pengabdian di kota asal kami Tasikmalaya. Adik semata wayangku tak mau kembali ke Bekasi dan bersikukuh untuk melanjutkan pendidikannya di Tasik. Dia bahkan sudah ikut ujian, bahkan sudah lulus di Universitas Siliwangi. Perguruan Tinggi yang cukup besar di Tasik. Bapak memang benar-benar hebat, anak yang diharap bisa membantu usahanya di rumah direlakannya untuk merantau di kampung sendiri ^_^  demi mengais ilmu dengan enjoy.

Setelah sekian lama, akhirnya kubersyukur Ita adikku kuliah di Tasik. Karena belakangan kutahu, sangat sulit menghindari pergaulan alay ala anak kota di sekitar Jakarta. Dengan pergaulan yang lumayan bebas, apalagi dengan anak kost. Oh NO. Bahkan, sampai tahun ini, masih ada temanku yang belum lulus kuliah. Apa kata dunia???

Bergaul dengan anak kampung yang gak kampungan, Ita terus berusaha agar bisa cepat menyelesaikan kuliahnya. Teman akrabnya selalu setia menemaninya menyelesaikan tugas akhir kuliah itu. Thanks wat Lilis. Empat tahun, tapi kok rasanya lama ya menunggu Ita agar bisa kembali pulang. Membantu bapak dengan usaha yang sudah dirintisnya sejak muda.

Aku yang sudah diboyong suami ke daerah lain, agak sulit untuk membantu bapak. Dan Ita lah kini yang menjadi harapan bapak meneruskan usahanya. Mana bapak pake acara minta calon suami ke pak Ustadz segala.

Oia, selama kuliah di Tasik, Ita tinggal di pesantren. Dia sudah pernah tinggal di dua pesantren. Dan bapak sangat melarang Ita tinggal di rumah kost. Mungkin takut ada yang aneh-aneh. Dan biar pinter ngaji juga. Biar ajarannya sama dengan ajaran bapak. Maksudnya????    ^_^

Memasuki semester akhir, setiap pulang ke Bekasi selalu kutanya perihal skripsinya. Beruntung Ita punya printer. Jadi tidak usah ke warnet untuk ngeprint, lebih irit. Dan hal itu bisa jadi alasan kami sekeluarga selalu menanyakan skripsinya.

Bulan November 2012, Ita memberi kabar bahwa skripsinya sudah deal dan menunggu sidang. Rencana wisuda bulan Desember 2012. Aku dan Mimi sibuk sendiri cari-cari baju wat wisuda Ita. Maklum cewek, siapa yang mau wisuda dan siapa yang sibuk cari baju ^_^

Setelah sekian lama, akhirnya di tanggal 22 Desember 2012 Ita wisuda. Dengan mobil kijang kami berempat meluncur ke Tasik, Bapak, Mimi, Ayah Zia, Bunda Zia dan Zia. Maksudnya berlima hehehehe . . .

Memulai perjalanan hari Jum'at, 21 Desember 2012 setelah dzuhur ditemani rintik hujan yang berubah menjadi hujan deras. Perjalanan ditemani dengan bunyi hp bapak dari penghuni kontrakan kami "Pak Haji, Kontrakan Banjir". Santai bapak menjawab "tar ya, kalo saya sudah pulang dari Tasik. Ini lagi di luar kota".
Untung bapak lagi ke Tasik ya, ujarnya. Kok gitu?????

Bandung macet abissss, Banjir, jalan tertutup air. Banyak kendaraan mogok.

Sampai Ciawi, seperti biasa, Bapak mau makan malam di RM Gentong. Gak begitu seru, tak seperti saat berlibur bersama umi, sudah malam. Abis hujan, mainannya basah. Zia merengek minta naik becak. Tapi kami buru-buru. Ini kan bukan liburan. Rupanya bapak agak kecewa, karena liwet yang dipesannya hanya dibungkus daun pisang, ga pake kastrol. Dan terus dibahas sampai pulang kembali ke Bekasi.

setelah sekian lama, akhirnya
zia kecapean

Sampai di pesantren Ita jam 10 malam. Zia tidur, dan kami semua capek. Siapkan tenaga dan energi untuk esok hari.

Setelah sekian lama, akhirnya . . .
Baca selengkapnya » 7 komentar

Rabu, 02 Januari 2013

Teman Supir Angkot

Teman Supir Angkot


Pernah naik angkot???? Pernah donk.
Hanya orang-orang yang ga nahan yang ga bisa naek angkot (apanya ya???). Kejadian ini sudah agak lama, namun masih lekat di mata, apalagi kalo dah naek angkot. Ada ceritanya neh . . .

teman supir angkot

Sore itu sepulang mengikuti STS di gedung Bbpp aku dengan mataku yang agak sedikit istimewa dan tetap tanpa kacamata mulai menyebrangi jalan untuk naik angkot 25 menuju arah Rawa Panjang. Apalah daya mata tak sampai ternyata yang kuberhentikan adalah angkot dengan nomer lambung 05. Wah, bakal dibawa keliling terminal nih. Dan benar itu . . .

Sudah hampir maghrib, belum juga kutemukan mobil bernomor 11 di terminal kotaku tersayang. Dan ternyata, di bawah lampu merah itu ada satu mobil merah dengan nomor 11. Asiiiik.
Langsung kudekati, tapi kok nyetel lagunya agak keras ya, mana lagu dangdut yang amburadul campuraduk lagi. Tapi kalo jalan lagi lumayan jauh, dan aku sudah hampir masuk ke dalam mobil. Ya sudahlah lanjut saja, toh di dalam sudah ada dua ibu yang duduk dengan manisnya.

Mengelilingi terminal menuju arah rumahku, sang supir angkot mencari penumpang, sebentar ngetem, lalu jalan lagi, dan berhenti. Sang supir menaikkan dua gadis remaja dan menempatkan mereka di sampingnya. Tak lama kutahu ternyata mereka teman Supir Angkot.

Bercanda ala anak muda, sang gadis mengeraskan suara lagu dangdut amburadul tadi sambil bergoyang. Ibu yang berlogat Medan meneriaki sang supir "Bang, terlalu keras itu musiknya. Tak tahan telingaku ni" Sang supir mengecilkan volume tapenya dan sang gadis menggerutu sambil memaki Ibu Medan dengan suara pelan. Ada-ada saja.

Jalanan mulai macet, beberapa pegawai baru saja pulang rupanya. Perjalanan kami mulai merayap, tapi kok Sang supir malah berhenti. Padahal tidak ada calon penumpang menunggu di sana. Oalah,,,, teman supir angkot itu turun dan beli gorengan, ulangi lagi ya, beli gorengan. Mulailah dua ibu itu berceloteh dan bergerutu ria. Tak usah marah-marah pun jalanan sudah sedemikian ramai.

Syukurlah kulihat arah dari Rawa Panjang mulai lenggang. Sang supir belok kiri dan berhenti. KOk berhenti lagi?????
lagi-lagi teman sang supir turun, dia membeli dua gelas air mineral, haus setelah makan gorengan mungkin.
Beberapa bapak dan ibu mulai naik angkot.

Beberapa meter ke depan, sang supir menurunkan dua teman gadisnya. Dan supirpun berkata "Woi, tali *H lu ketinggalan" mendengar kata itu, aku sedikit kaget. Dua gadis yang bercelana setengah paha tertawa cekikikan, begitu pula dengan beberapa bapak dalam angkot. Astagfirullah, kok gitu???? Ujarku dalam hati.

Setelah dua gadis itu turun, di jalan para penumpang yang kelelahan hanya diam dan bersiap turun sampai tujuan. Begitu pula dengan diriku. Senangnya melihat rumah.

Teman supir angkot.
Bunda Zia
Baca selengkapnya » 1 komentar

Rabu, 19 Desember 2012

Busway, I am coming

Busway, I am coming


Menjejakkan kaki di Jakarta memang baru beberapa bulan ini J jalani. Itu pun bersama Ayah Zia. Paling hanya ke kantor dan ke rumah temannya di Rawa Badak. Dan sekali ke sebuah tempat yang J lupa namanya untuk ikut acara seminar, itupun memenuhi rasa penasaran J karena sudah tiga kali gagal pergi dan dah janji sama teman.

Dan pada hari Selasa, 18 Desember 2012 pertama kalinya J melangkahkan kaki ke Jakarta sendiri. Catat ya, sendiri. Terus harus bilang WOW gitu???? Ya harus. Karena Bunda Zia yang penakut dan pendiem ini mulai melangkah lebih maju. Dan ga perlu dianter lagi kalo ke Jakarta. Horeeee....

Berangkat jam sebelas, dianter Ayah Zia sampai Komsen. Ragu mau turun dari motor, dan kayaknya Ayah juga berat lihat J pergi sendiri (baru diakui malem ini). Naeklah angkot berwarna merah dengan nomor 40. Kata Ayah sih J harus turun di Pinang Ranti. Tempat yang sama sekali tidak ada dalam memori otak J yang cukup luas. Duduk di samping Abang supir, membuat J sedikit tenang. Setidaknya, kalau J nanya Pinang Ranti ga ada yang tau kecuali J dan si abang supir.

Gak lama, naiklah seorang ibu muda. Dan ternyata dia mau turun di Pinang Ranti. Thanks Allah, J ga perlu nanya si abang dimana letaknya Pinang Ranti.

Sesampainya di Halte Pinang Ranti, J ikuti si ibu yang akan membeli tiket (untungnya dia ga curiga apa-apa). Nanya si mbak penjaga halte "Mbak, ini ke Kuningan ga?" mulai merasa jadi orang terbodoh di dunia ketika si mbak jawab "iya, nanti turun aja di halte Kuningan Barat. Ntar ada yang kasih tau kok".
And, here i am.
Busway, i am coming.

Oh, ternyata di Busway itu tempat duduknya cuman sedikit ya. Dan kemungkinan untuk duduk adalah 5 persen. Pantesan harganya cuma Rp. 3,500. Dan kalau J nekat wat duduk, maka J akan duduk dihimpit oleh nenek-nenek dan kakek-kakek. Oh NO.

foto dari sini

Asik berdiri dan dapet tempat wat nyender, J terus dengerin si Abang Busway yang nyebutin satu-satu nama Halte pemberhentian koridor 9. Dan J baru tau ternyata J naek Busway koridor 9 yang rutenya dari Pinang Ranti sampe Pluit. J ga berhenti sms Ayah Zia, biar ga khawatir ma keadaan J (padahal biar ga tegang plus ngelamun). Kira-kira ini nih rute Busway Koridor 9.

Naik Busway itu bisa keliling Jakarta hanya dengan tiga rebu lima ratus. Itu kata Ayah Zia dulu. Dan ternyata kalo harus keliling Jakarta dan NJ cuma mau ke Kuningan itu lama banget ya. Ditambah lagi J berdiri dari Pinang Ranti ke Kuningan. Biasanya ma Ayah Zia, 45 menit dah sampe di Tendean. Kalo ini dua jam baru sampe Halte Kuningan Barat.
Padahal J pergi siang lho. Tapi kok Jakarta ga kenal waktu ya, udah siang masih aja macet.
J dah sampe Kuningan. Cepet J langsung sms Ayah Zia. Dan ngacir naek Ojeg ke tempat tujuan.

Tadi sih niatnya Ayah mau jemput J pas pulangnya. Tapi Ayah ada sedikit keperluan. Jadilah J pulang sendiri lagi, naek busway lagi, berdiri dua jam lagi.
Mulai berjalan ke arah Halte Kuningan, Berfikir. Baru aja sekali dah banyak ngeluh, gimana jadi orang kantoran yang tiap hari harus pp naek Busway????
Penuh semangat akhirnya J menuju loket karcis Busway.
Busway, i am coming.

ternyata namanya Barier 
Kalo yang di Pinang Ranti, dapet karcis kertas yang dirobek Abangnya kalo mau masuk. Tapi di Kuningan dapet kartu. Tetap dengan harga Rp. 3,500.
Dengan semangat J mau masuk. Tapi, bukkkk. Kok pintunya ga mau kebuka.
Si Abang langsung deketin J "Bu, kartunya dimasukin ke sini" ujarnya sambil mengambil kartu dari tanganku dan memasukkannya ke samping pintu tersebut. Agak bengong juga, tapi lanjut jalan aja dan ngakak agak keras karena tau kalau J bener-bener WOW tentang Busway  ^_^

Dan sampe di pintu masuk. Kok banyak orang ya????
Ternyata jam empat, waktunya Jakarta memulai macet. Orang-orang pulang kerja.
Gini ya rasanya naek Busway dan tidak bisa bergerak kecuali hanya mengikuti arus. Ya Allah, lindungi J. Mudah-mudahan ga ada apa-apa.
Banyak yang marah-marah, ada juga yang diem dan sok kalem. Salah satunya J.

Hufh,,,,
Sampai juga di Pinang Ranti. Walau agak gerimis tapi J pulang dengan selamat dan aman.
Sambil naek angkot yang tetap nomor 40, J lihat lagi Halte Busway itu. Dan bilang "Kita bakal ketemu lagi. J akan taklukkan Jakarta dengan Busway"
Hahaha     Lebayyyyyy

Maaf, fotonya sedikit. Ga sempet foto-foto. Dah lemes and takut duluan. Jiahhhh . . .
Busway, i am coming
Baca selengkapnya » 4 komentar

Zia vs Sikat Gigi

Zia vs Sikat Gigi


Zia vs Sikat gigi"Zia, sikat gigi dulu ya" Setiap kali kuucapkan kata itu, Zia (20 bulan) gadis kecilku langsung menutup mulut dengan kedua tangannya dan menoleh ke arah lain. Ya, Zia tidak mau menyikat giginya. Sangat tidak suka sikat gigi. Apalagi jika sikat gigi itu sudah kuberi pasta gigi di atasnya dan kupegang di tangan kanan mengarah ke mulutnya. Akirnya jadilah Zia vs sikat gigi.

Baru beberapa bulan ini aku memperkenalkan sikat gigi pada Zia. Karena menurut orang tuaku, jika gigi anak belum tumbuh semua, maka tidak boleh menyikat giginya, khawatir nanti giginya jelek. Entah benar atau tidak, namun ku belum menemukan fakta yang pasti akan hal tersebut. Tapi ternyata ku mulai tidak betah saat melihat gigi Zia mulai menguning disebabkan makanan. Dan kubeli sikat beserta pasta gigi khusus anak-anak.

Pada awalnya kubiarkan Zia memegang dan memainkan sikat giginya, tapi kok dia malah menghisap air yang ada di sikat dan pasta gigipun habis dimakannya. Untuk mengantisipasi hal tersebut, kuputuskan Zia tidak boleh memegang sikat saat mulai menyikat gigi.

Zia vs Sikat gigi
zia dengan gigi kecilnya

Dan sungguh, entah rasa geli atau sakit atau lainnya. Yang pasti Zia tidak mau menyikat gigi. Dan aku harus memegang kedua tangan serta kepalanya saat acara menyikat gigi, dengan suara tangis yang bisa terdengar sampai ke depan rumah.

Sesekali kuberitahu apa manfaat sikat gigi dan akibat jika menyikat gigi. Namun, bunda Zia memang kurang sabar dan Zia yang belum bisa sabar. Akhirnya, Zia harus kupaksa untuk menyikat gigi. Ketika kutanyakan ke beberapa saudara tentang cara membujuk anak agar mau menyikat gigi. mereka hanya bilang "Semua anak kecil tidak mau menyikat gigi".

Zia vs Sikat gigi


Baca selengkapnya » 1 komentar

Sabtu, 06 Oktober 2012

Lontong Sayur pagi ini . . .

Lontong Sayur pagi ini . . .

Ayah Zia memang seorang fulltime blogger. Namun bukan berarti dia selalu bisa menemani kami kemana-mana. Bahkan terkadang hari minggu pun ayah Zia pergi untuk kepentingan onlinenya. Begitulah kehidupan kami dengan dunia maya yang menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga.

Namun, hari-hari ini kegiatan ayah agak senggang, tapi tidak dengan esok hari. Dan sabtu pagi ini ayah Zia mengajak kami berjalan di lenggangnya jalanan, maklum libur. Ayah yang selalu penuh kejutan, mengawali jalan kami ke arah komsen, akan tetapi berbelok ke arah Villa Nusa Indah di tengah perjalanan. Dan berhenti tepat di depan ATM Mandiri. Ayah mulai mengajak Zia berjalan kaki ke seberang jalan, setelah Zia ribut nangis di ATM. Dikira sedang menuju suatu tempat, eh ternyata ayah sedang cari tempat buat sarapan yang enak (padahal Bunda udah masak lho di rumah, mubazir deh).

Terlihat dari kejauhan ada warung lontong sayur dadakan, rame banget. Kukira ayah mau masuk ke dalam tenda tapi ternyata malas terus menuju pedagang bubur ayam."Mau survei dulu" katanya. Lanjut ke tempe mendoan, kayaknya seru makan tempe pagi-pagi. Pas mau beli kok mbaknya malah pergi??? (tau kali yang mau beli belum mandi hehehehe . . .) Walhasil, masuklah ayah sambil mengajak Zia kembali ke lontong sayur . Memesan dua porsi lontong sayur plus telur dan rendang pus kerupuk merah mudanya yang khas, kami tak kebagian tempat duduk, dan akhirnya memilih tangga depan ruko yang masih tutup. Makan bertiga dengan Zia yang tak berhenti turun naik.

"Lontongnya ga asik, enakkan yang di pasar" ujar ayah Zia sambil mengunyah suapan terakhir lontong sayurnya (ga asik kok abis ya . . . .) Tapi memang begitu yang kurasakan, masih kalah dengan lontong sayur dekat toko bapak di pasar. Makan gratis, pulang bayar. Dan kudekati si empunya warung sambil bertanya "berapa?" "semuanya dua puluh empat ribu mbak". Ada sedikit rasa kaget lewat, mahalnya. Mana belum minum. Kubayar semuanya dan di luar tenda ayah Zia sedikit mendengar perkataan si empunya warung. Lalu berkata "kok mahal bener sih. Padahal rasanya biasa aja. Tobat deh makan di sini" tersenyum kumenimpalinya.

Whatever, pokoknya pagi ini aku bahagia. Senang bisa jalan bareng bertiga. Sesampainya di rumah, Zia tidur lelap. Mungkin kelelahan setelah menghitung jumlah anak tangga ^_^

Baca selengkapnya » 0 komentar

Kamis, 04 Oktober 2012

Harapanku untuk PLN Indonesia

Harapanku untuk PLN Indonesia

Jika mendengar tentang PLN siapapun pasti akan berpikiran tentang listrik. Listrik yang menerangi dan menghidupkan banyak orang di Indonesia. PLN yang merupakan satu-satunya BUMN yang bergerak di bidang energi listrik. Dan sudah sangat lama, bahkan ketika Belanda masih menjajah Indonesia listrik sudah menjadi hal yang penting  di Indonesia. Listrik yang dulu menjadi hal yang sangat mahal kami rasakan di kampung, kini menjadi harga yang berharga yang sudah ada di rumah-rumah. Bahkan meramaikan malam-malam kami dengan nyalanya televisi hampir di setiap rumah.

PLN yang sudah berevolusi dari listrik pasca bayar menjadi listrik pra bayar atau yang disebut Listrik Pintar menjadikan pelanggan PLN lebih pintar mengatur dan membayar listrik. Meski begitu, kejadian listrik padam tetap tak bisa terelakan, dari kota yang penuh akan pemakaian listrik hingga desa yang muatan listriknya kecil hal tersebut tetap terjadi. Jika listrik padam di siang hari mungkin tidak terlalu terasa akibatnya  bagi pelanggan, dikarenakan banyak yang sedang bekerja di luar rumah. Akan tetapi jika listrik padam di malam hari dan ternyata pelanggan memiliki anak yang masih sangat kecil akan menjadi hal yang merepotkan, meresahkan, dan menyebalkan. Hingga mereka diwajibkan memiliki lampu elektrik yang akan dijadikan alat penerangan saat lampu mati di malam hari.

Untuk permohonan pasang baru listrik saat ini merupakan hal mudah, hanya tinggal hubungi 123. Itu pada awalnya, akan tetapi diakhirnya selalu ada permintaan uang lebih untuk pembayaran jasa atau pembayaran lain yang kadang tak masuk akal. Harapanku dikemudian hari jika memasang listrik baru, tidak dihadapkan dengan pegawai PLN yang demikian.

Keluar rumah dan menghadap ke atas, kanan atas, dan kiri atas bagian rumah. Pasti kabel-kabel listrik yang tak beraturan menjadi pemandangan. Jadi teringat peristiwa kontrakan bapak yang akan memasang listrik baru, dan ternyata kabelnya harus melewati rumah seorang tetangga yang sudah bapak anggap sebagai orang tua sendiri. Dan hari H pemasangan listrik, sang tetangga marah-marah kepada saudara yang sudah diberi tanggungjawab untuk pemasangan tersebut karena ada kabel yang sedikit melewati rumahnya, nanti takut kebakaran, katanya.

Ada lagi teman yang baru datang dari Brunai Darussalam, main ke Jakarta dan bilang "Jakarta tetap seperti ini ya, jalanan macet, kotor, dan lihat kabel-kabel itu dipasang tidak beraturan. Sangat berbeda dengan Brunai yang rapi dan bersih." Serasa ada yang menusuk di hati mendengar kata-kata itu, tapi apalah dikata memang begitu kenyataannya.

Pemberitahuan setiap kali listrik akan dipadamkan, hilangkan pungli di badan PLN, dan rapikan kembali kabel-kabel itu atau mungkin dipendam saja di dalam tanah. Itu harapanku untuk PLN Indonesia tercinta. Agar tidak usah ada pelanggan yang memaki-maki dengan kata kasar saat ada suatu kesalahan yang PLN sendiri tidak tahu akan hal tersebut.

Selamat Hari Listrik Nasional, 27 Oktober 2012 


Baca selengkapnya » 4 komentar

Jumat, 28 September 2012

Merindu Air

Merindu Air

Memiliki tempat tinggal di puncak gunung memang memiliki kenikmatan mata yang memuaskan, kesejukan udara yang melenakan, memiliki keramahan masyarakat yang tak kutemukan di ibu kota. Tapi bukan berarti kita memiliki segalanya. Seperti pulang kampungku kali ini.

Di tahun-tahun sebelumnya, musim pulang kampung kami adalah musim becek penuh air dan lumpur di sekitar rumah. Hingga kami harus lebih sering berada di depan 'hawu' alias perapian di dapur dan merapatkan selimut setiap waktu. Memandang halimun tebal menyelimuti gunung di tiap pagi, dan rintik hujan yang tiada henti di setiap hari. Dan musim ini, pulang kampung yang indah untuk mata, tapi tidak untuk kamar mandiku. Musim ini musim kemarau.

Pemandangan yang kulihat pagi pertamaku di kampung adalah sawah bapak yang kini berubah fungsi menjadi tempat ngangon embek. Karena tak tersisa air sedikit pun di atas permukaan tanah, akhirnya tumbuhlah rumput liar dengan malu di tengah sawah bapak. Mandi pagi yang memang tidak pernah aku jadwalkan (dingiiiiin) batal sudah disebabkan minimnya air di kamar mandi. Pemandangan piring kotor yang tadi kulihat menumpuk di dapur sudah dibawa ua ke sumur bawah (hingga hari akhir di kampung aku ga pernah cuci piring), dan tinggallah pegunungan baju kotor melambai-lambai minta air untuk mandi mereka. Dan mulailah ku gerilya mencari air sambil membawa baju kotor ke rumah ua-uaku sayang.


Hari kedua, mencuci seperti biasa, gerilya dulu. Dan selalu ada yang berbaik hati memberi sumurnya dengan cuma-cuma kepada musafir kehausan ini   ^_^.  Dan setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumah, kami sekeluarga pergi melihat-lihat kebun yang sudah lama ditinggalkan sambil botram (makan-makan).






Matahari memperlihatkan kekuatannya di atas langit. Namun udara pegunungan yang dingin menjadikannya hangat dan sungguh enak untuk tidur. Tak terasa satu jam tertidur karena kelelahan jalan-jalan di kebun, ternyata mimi dan bapak mengajak Zia ziarah ke makam kakek meninggalkan dalam sepinya rumah siang itu. Dan Ita yang dua hari lalu kami jenguk menyusul kami ke kampung hari itu.

Bosan dengan kekeringan di rumah, akhirnya bapak berinisiatif mengajak saudara-saudara kami ke sungai terdekat, Cijalu. Sungai yang menjadi batas dua desa itu kini dilewati jembatan yang Alhamdulillah bisa muat untuk mobil menyebrang. Hingga kami yang sedang mencuci dan mandi bisa melihat satu sampai tiga mobil yang lewat (O O . . . . )





Ada yang mandi, cuci baju sampai cuci karpet, SERU. Dan Zia yang memang nempel sama tantenya ikut mandi walau sebentar. Dan bapak sibuk dengan nasi liwet beserta ikan goreng yang sengaja kami bawa dari rumah. Selesai mandi dan cuci-cuci makan enaaakkkk.






Hari yang indah dengan air melimpah di Cijalu. Alhamdulillah Cijalu masih dengan airnya yang jernih dan penuh.
Baca selengkapnya » 4 komentar

Minggu, 23 September 2012

Berlibur Bersama Umi

Berlibur Bersama Umi


Berlibur Bersama Umi - Mungkin kepulangan aku dan Zia bersama engkong dan uminya ke kampung halaman Tasikmalaya tidak bisa dibilang mudik, karena memang sudah kelewat lebaran sudah jauh sebulan dari Hari Raya Idul Fitri. Namun karena bapak baru bisa bernafas lega usai masa sibuk di pasar dan aku memang ibu-ibu yang suka jalan-jalan, akhirnya kami putuskan untuk mudik sebulan setelah lebaran dan harus meninggalkan ayah Zia sendirian di rumah hiks...

Kami berempat pergi dengan mobil pick up tahun 1996 yang setia mengantar bapak kemanapun pergi. Memulai perjalanan kami setelah shubuh, udara pagi pun ikut mengantar kami menuju kampung halaman, dan melewati jalan tol yang lumayan ramai hingga arah kawasan industri. Dan jalanpun melebar terus sampai akhirnya pemandangan tahu Sumedang terhampar di pintu keluar Tol Purbaleunyi (ngilerr,,,,).

Setelah merenggangkan otot sambil makan tahu, kami pun terus melanjutkan perjalanan melewati sejuknya hawa bandung dan terus ke Nagreg hingga akhirnya sampai di Rumah Makan Gentong daerah Ciawi. Kami makan dengan lahap (maklum belum sarapan), sampai-sampai bapak nambah satu porsi nasi timbel lagi yang pada akhirnya harus akulah yang menghabiskan hehehehe,,,(gembul euy..). Suasana yang bersahabat mengajak kami untuk shalat Dzuhur disana. Dan kami bergantian mengasuh Zia yang asik dengan banyak permainan di halaman mushola Rumah Makan.



Karena harus Menengok adik yang masih pesantren di daerah Singaparna dan mengantar kiriman untuk keponakan di Kawalu, kami pun tiba di Pamijahan saat maghrib tiba. Dan bapak berniat untuk melanjutkan perjalanan sampai ke rumah. Karena rumah kami nun jauh disana, on the top of the mountain, maka kami pun terus nanjak di waktu maghrib. Hingga di Tanjakan Panyalahan yang konon di tiga tikungan harus membunyikan klakson tiga kali bapak merasa perjalanan lancar dan tidak memencet klakson. Dan mobil pun 'selip' tidak bisa naik, diam di tempat. Sontak aku kaget dan agak deg-degan, tapi tidak dengan bapak, yang telah lama berkenalan dengan mobil dan tanjakan ini tetap tenang dan berusaha. Ada beberapa motor yang lewat, hanya bertanya tanpa membantu, dan bapak sekedar tersenyum kecut. Beberapa menit kemudian, mobil kami pun bergerak kembali dan terus naik hingga sampai di rumah.

Alhamdulillah, Zia tidak rewel di jalan. Anak pinter. Dan semua keluarga tersenyum melihat kedatangan kami yang kemalaman karena harus mampir kemana-mana.
Baca selengkapnya » 4 komentar

Sabtu, 01 September 2012

Serunya Bersama Ayah

Serunya Bersama Ayah

Setelah penyakit ini menghinggapi diriku dan pergi bolak balik ke dokter, aku dan keluarga memutuskan untuk tidak mengendarai sepeda motor sebagai cara mencegah datangnya kembali penyakit itu. Hingga akhirnya aku menikah.

Ayah Zia yang pertama kukenal adalah satu sosok yang dingin terhadap perempuan. Tak pernah ada satu nomor teman perempuan pun yang disimpan di memori handphone-nya (katanya sih begitu). Dan memang hampir semua teman pun segan kepadanya. Dan jika mengendarai motor dia tidak pernah menggunakan rem. Terus saja melaju dengan kencangnya tanpa lirik kanan kiri. Semua orang tidak suka dibonceng Ayah, dan tidak suka mengikuti Ayah dengan sepeda motor dibelakangnya. Dan semua teman perempuannya marah ketika pertama Ayah Zia memboncengku, karena ternyata dia bisa naik motor dengan kecepatan rendah denganku ^_^.

Aku seorang wanita yang lebih suka naik angkot daripada motor, sangat tidak suka kepadanya. Selain dingin dan suka kebut-kebutan, Ayah Zia tidak romantis.Dia tidak lembut, bahkan kepada wanita. Dan hingga saat ini aku tak tahu apa yang membuatku menyukainya.

Menikah dengan Ayah Zia berarti berbaur dengan seluruh kebiasaan baik dan buruknya. Termasuk ngebut dengan motor berisiknya dan melihatnya selalu berkutat di depan komputer dengan web dan blog-blog yang dimilikinya serta semua teman yang selalu pulang pagi jika bersamanya '' _''

Hidup menjadi lebih seru dan berarti dengan Ayah Zia. Tidak monoton dan tidak membosankan walaupun terkadang suka deg-degan (nah lho). Ayah Zia memaksaku untuk mengenal dunia maya lebih luas, tidak hanya facebook dan twitter, memaksaku keluar dari pekerjaanku yang membosankan dan tidak menghasilkan (itu menurutnya), mengajariku untuk mulai menjadi bos bagi diri sendiri dan mandiri, membuatku harus memasak tiap harinya dan juga membiasakan diriku mengendarai motor tanpa harus takut akan penyakit apapun atau halangan apapun.

Aku tidak suka ngebut dan berisiknya motor, tapi karena Ayah Zia yang mengajakku dan membiasakanku maka mau tidak mau jadi terbiasa. Menyelip di antara macetnya jalan Jakarta bahkan berada diantara dua mobil besar sudah biasa. Dan kini akupun mulai mengenal blog dan dunia maya lebih luas melewati Ayah Zia. Thanks Ayah. Love you : )

Baca selengkapnya » 1 komentar

Minggu, 26 Agustus 2012

Ceria Wajah Zia

Ceria Wajah Zia

Sebelum lupa dan ngalor ngidul kemana-mana, saya beserta keluarga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin. Mungkin ada salah tulis dalam postingan blog saya, atau ada yang tersinggung dan sakit hati karenanya.

Tiga hari sudah berlalu lebaranku, Hari Kemenangan yang ditunggu oleh seluruh umat Islam di dunia, dan Indonesia khususnya. Sebagai seorang muslim, tentunya saya bahagia dengan datangnya hari itu. Hari dimana setiap orang saling meminta maaf dan melebur dosa. Hari yang setiap orang harus berbahagia. Bahkan, di hari ini diharamkan berpuasa, karena seluruh umat haruslah mendapat sebagian rizki dari yang lainnya (zakat).

Mungkin sudah menjadi kebiasaan orang Indonesia, "termasuk di dalamnya keluarga besar saya". Musim lebaran adalah musim mudik, dan bagi yang tidak mudik pastilah menyempatkan waktu dan uang untuk pergi bertamasya ke tempat-tempat hiburan ibu kota. Dan keluarga kami tidak melaksanakan mudik pada lebaran tahun ini. Setelah diskusi dan telfon sana sini, akhirnya kami putuskan untuk bertamasya.

Si kecil Zia, memang sangat menyukai hewan. Bahkan, dia senang meniru beberapa suara hewan. Seperti ayam "U U", kucing "meng", anjing "uk uk". Dan bahkan dia pernah ikut meloncat-loncat saat melihat seekor monyet meloncat di hadapannya, Nah loohhh. Hal tersebut yang membuat Uminya (baca: nenek) ingin sekali membawa Zia pergi ke Kebun Binatang Ragunan. Selain memang karena Zia senang melihat binatang, juga karena ingin mengenalkan Zia beberapa hewan yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Dan di hari Senin setelah lebaran, Umi menelfon dan mengajak kami sekeluarga untuk pergi. Namun dia tidak memberi tahu tujuannya, suprise kata Umi.

Dan pergilah kami di hari Selasa pagi dijemput mobil Umi. Dengan senang hati kami sekeluarga ikut pergi dengan umi (gratis lhooo..). Menuju ke Kebun Binatang Ragunan.

Sesampai di TKP, Zia yang langsung melihat kuda berlari di hadapannya dan bersiap untuk berlari mengejar sang kuda padahal banyak orang lalu lalang di depannya. Sontak kami sekeluarga kaget. Dan alhamdulillah ayahnya sigap dan menangkap si kecil Zia (hore,,, ayah hebat). Dan kami memulai petualangan seru ini dengan melihat betapa besarnya gajah (waw""). Dan kami pun terus berkeliling berjalan kaki.

Berlanjut ke kandang primata yang keren, Zia masih belum ngeh n sadar. Tapi ketika sang primata kecil datang dengan dot di mulutnya Zia sedikit meloncat dan berteriak "tu tu" (baca: susu). Heboh, mungkin itu kata yang lumayan bisa mewakili sikap Zia ketika melihat monyet kecil meloncat dan berayun menghampiri induknya. Pokoknya rame abis, sampai-sampai aku malu karena banyak orang melihat ke arah kami. Ketika memasuki sarang hewan jenis aves, Zia kubiarkan berjalan dan berlari bersama kakak sepupu dan ayahnya. Dia terlihat sangat senang dan bahagia. Keceriaan tampak di wajah mungilnya.

Biawak, beruang, ular, buaya, harimau. Semua hewan dilihat dan diperhatikan oleh Zia kecilku, hingga tiba di kandang jerapah Zia kecilku tertidur lelap di gendongan ua-nya.

Dan keponakanku meminta untuk menonton pertunjukan hewan, kami menyetujuinya. Saat mengantri masuk, entah mungkin karena bising suara riuh rendah penonton di dalam atau karena panasnya hawa di siang hari itu, Zia pun terbangun dengan kata pertama "teteh" memanggil kakak sepupunya.

Masuk ke tempat pertunjukkan, Zia tersenyum senang melihat burung, linsang, dan beruang yang berakrobat. Semuanya hebat. Itulah akhir perjalanan kami ke Kebun Binatang hari itu. Semua pulang dengan riang gembira dan bercerita sambil membawa oleh-oleh Ragunan.

Sesampai di rumah, Zia menangis ingin tidur. Dan Zia tertidur lelap hingga pagi hari. It was a beautiful day, thanks Allah.




Baca selengkapnya » 1 komentar

Kamis, 09 Agustus 2012

Happy Birthday MARU BUNNY TOWN

Happy Birthday MARU BUNNY TOWN | Aku Tidak Suka Kucing 

Entah, aku sudah lupa bagaimana awalnya, namun hingga sekarang aku tetap tidak begitu suka dengan kucing. Makhluk dengan bulu yang sering terbang kemana-mana, dengan ekor panjang yang terkadang ada kotoran menempel di ujungnya. Aku tidak suka kucing, bukan berarti aku benci kucing.




Itulah bentuk dan keadaan kucing yang ada dalam pikiran dan penglihatanku. Memang, sesekali kumelihat tampilan kucing yang indah, menawan, dan terawat. Tapi itu hanya tampilan yang ada di televisi semata. Dan yang ada di hadapanku saat ini adalah kucing tak terurus yang hidup dengan memakan makanan dari tempat sampah, kucing kurus tanpa perawatan apalagi kasih sayang.

Aku tidak suka kucing. Karena kucing yang kulihat begitu menjijikan dengan anak-anaknya yang kecil dan dilahirkan di sembarang tempat, kucing yang tak pernah tahu artinya rumah tempat berlindung atau seseorang yang bisa mengelus lembut bulunya dengan kasih sayang.

Kucing bagiku adalah hewan yang tidak memiliki imunitas tubuh, bahkan dia sering menularkan penyakit  pada selainnya. Pencuri makanan dari rumah dengan pintu terbuka.

Dan setelah ku melihat Maru Bunny Town, aku tahu ternyata ada yang menyayangi dan mengasihi kucing-kucing itu. Akan tetapi satu Maru Bunny Town tak akan cukup untuk semua kucing yang kulihat ini. Semoga di Ulang Tahun yang Kedua, akan muncul puluhan bahkan ratusan Maru Bunny Town yang benar-benar menyayangi binatang. Agar kucing-kucing ini tidak menjadi sampah pada akhirnya.







Baca selengkapnya » 2 komentar

Catatan Cinta Bunda Zia