Kamis, 06 September 2012

Harapanmu dan Keinginannya

Harapanmu dan Keinginannya

Lahir di tengah-tengah keluarga yang berkecukupan dan harmonis tanpa masalah adalah keinginan setiap orang. Memiliki kedua orang tua yang benar-benar berusaha agar anaknya mendapat jenjang pendidikan tertinggi dan memiliki penghasilan yang cukup serta keluarga yang bahagia adalah sebuah kebahagiaan tersendiri.


Di situlah aku dilahirkan, sebuah keluarga penuh disiplin dan rancangan kehidupan. Orangtuaku bekerja mati-matian hingga menjadi orang yang cukup disegani dalam keluarga besar kami agar aku dapat sekolah ke tingkat tertinggi, karena mereka tidak pernah mencicipi bangku sekolah. Mengajar di salah satu Sekolah Negeri sambil meneruskan usaha keluarga adalah keinginan orangtua untukku, agar aku bahagia di masa tua. Dan selalu dengan alasan, supaya kamu ada pegangan hidup ketika suami meninggalkanmu. Dan semuanya berjalan lurus tanpa hambatan seperti yang kami inginkan. Hingga akhirnya aku menikah.

Memiliki suami dengan latar pendidikan yang sama dan pekerjaan yang sama walau berbeda tempat adalah hal yang sudah cukup membahagiakan orangtuaku. Tinggal serumah dengan orangtua dan selalu menjadi andalan orangtuaku ketika membutuhkan seorang anak laki-laki, ya itulah suamiku lelaki dengan hobi sepak bola dan blogging. Dan suatu ketika suamiku mengundurkan diri dari sekolah tersebut dengan suatu alasan.

Suamiku mulai berkutat dengan internet dan bekerja di rumah. Desas desus suara tak enak mengenai pekerjaan suamipun mulai terdengar. Suamiku mulai gerah dan bertekad untuk pindah rumah dan memintaku untuk berhenti dari pekerjaanku karena dia sudah mulai memiliki pekerjaan lain.

Mendengar kami akan pindah, orangtua setuju dan mengizinkan. Tetapi ketika mendengar bahwa aku harus berhenti bekerja dan diam di rumah, orangtua marah dan mulai berbicara seakan aku ini anak tak tahu diuntung dan tak patuh pada kedua orangtua yang telah mendidikku. Aku pun mulai membicarakan hal tersebut dengan suamiku, dan tak seperti apa yang kuharapkan, dia berbalik marah dan bilang bahwa aku pembangkang serta anak manja. Aku bingung.

Orangtua mulai menunjukkan sikap tidak enak padaku dan suamiku. Begitu pula suamiku, mulai malas ketika harus berhadapan dengan orangtuaku. Dan di hari kami pindah rumah, aku hanya bisa pamit pada kedua orangtuaku, karena suami melarang berlama-lama di rumah.

Seminggu dari hari perpindahanku, semuanya kujalani berbeda, aku cukup tinggal di rumah, namun tak ada komunikasi dengan orangtua, aku pun mulai resah. Dan meminta izin suami untuk menemui orangtuaku. Alhamdulillah, suami mengizinkan.

Kutemui orangtuaku, meminta maaf. Dan benar, orangtuaku mulai membahas tentang pekerjaanku. Namun, dengan nada dan pembicaraan yang lebih lembut dari sebelumnya. "Pak, bukankah bapak bilang di hari pernikahanku bahwa aku harus taat suamiku" ucapku. Dan bapak hanya terdiam seolah tidak terjadi apa-apa. Dalam hati selalu terucap doa untuk bapak "semoga kepatuhanku pada suamiku menjadi jalan yang mempermudahmu mencapai syurga" segala hormatku untukmu Pak.

Baca selengkapnya »

3 komentar:

elfarizi mengatakan... 6 September 2012 21.14

Wah, ceritanya hampir sama dengan sepupu saya. Sama persis, hanya beda bidang pekerjaan yang digelutinya :)

ALhamdulillah ya, akhirnya orangtua bisa melunak. Terima kasih, Bunda. Sudah saya catat :)

maria ulfa mengatakan... 28 September 2012 21.41

ternyata, kata 'patuh' saja tidak kemudian menyelesaikan masalah. Ada beberapa konsekuensi yang tidak bisa tidak ikut serta, pada akhirnya kita tidak akan benar2 terbebas dari yang namanya 'pilihan'. karena manusia dan pilihan tak akan benar2 terpisahkan, selalu akan ada pilihan lain setelah kita memilih. tapi ragamnya pilihan ini yang akan mengantarkan kita untuk berpikir dan pada akhirnya pilihan kita akan menunjukkan kualitas kita sebagai manusia.
Allahu yuqawwiki dear,
muah-muah kawan lama

elfarizi mengatakan... 30 Oktober 2012 09.52

Ada award nih sekaligus pengumuman Elfrize. Cek, ya, kawan-kawan :)

http://elfarizi.wordpress.com/2012/10/30/akhirnya-ini-dia-pemenangnya/

Posting Komentar

Catatan Cinta Bunda Zia